Berpikir tentang Kebenaran

Detective Conan
Gambar 1. Ilustrasi tokoh Edogawa Conan pada anime Detective Conan[1]

真実はいつもひとつ!

Shinjitsu wa Itsumo Hitotsu!

Kalimat di atas merupakan sebuah kalimat yang sering diucapkan oleh tokoh anime Detective Conan yang ada pada Gambar 1, yaitu Edogawa Conan. Terjemah kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia kira-kira sebagai berikut.

Kebenaran selalu satu!

Adapun terjemah kalimat tersebut dalam bahasa Inggris kira-kira sebagai berikut.

The truth is always one!

Jika kita mencoba memikirkan tentang kebenaran, tentu kebenaran hanya dan selalu satu. Namun begitu, masih ada yang memandang bahwa kebenaran merupakan sesuatu yang relatif, yaitu tergantung parameter yang digunakan.

Berpikir tentang kebenaran (al-haqiqah, truth) tidak berbeda dengan berpikir tentang hal-hal lain karena kebenaran adalah kesesuaian pemikiran dengan fakta (al-waqi’, reality). Namun begitu, karena kebenaran-kebenaran mempunyai nilai yang sangat penting (terutama kebenaran-kebenaran nonmaterial), maka perlu ada penjelasannya, yaitu sebagai sesuatu yang berbeda dengan proses berpikir tentang objek apa pun selainnya.

Berpikir tentang kebenaran adalah menjadikan keputusan yang telah dikeluarkan akal sesuai (secara sempurna) dengan fakta yang telah ditransfer ke dalam otak melalui perantara penginderaan. Kesesuaian inilah yang akan menjadikan makna (yang ditunjukkan oleh pemikiran) sebagai suatu kebenaran, dan pemikiran tersebut adalah suatu kebenaran jika ia sesuai secara alamiah dengan fitrah manusia.

Sebagai contoh adalah: pemikiran bahwa masyarakat adalah interaksi-interaksi dan sekumpulan manusia. Ini memang realitas masyarakat. Ketika akan diputuskan definisi masyarakat, maka seluruh keputusan-keputusan tentang fakta masyarakat harus berlangsung sesuai dengan metode rasional dan keputusan-keputusan itu memang merupakan pemikiran. Namun begitu, pemikiran tersebut merupakan kebenaran atau bukan, tergantung dengan pemikiran tersebut, benar-benar sesuai dengan faktanya atau tidak.

Mereka yang mengatakan bahwa masyarakat adalah sekumpulan individu-individu, dikarenakan mereka memandang bahwa sebuah kelompok (jamaah, group) terbentuk dari individu, dan masyarakat tidak bisa terwujud kecuali apabila ada sekumpulan individu. Kemudian mereka mentransfer fakta tersebut ke dalam otak mereka melalui penginderaan, lalu mereka tafsirkan dengan perantaraan informasi-informasi terdahulu. Akhirnya mereka mengeluarkan keputusan bahwa masyarakat adalah kumpulan individu-individu. Keputusan tersebut adalah pemikiran. Akan tetapi yang menunjukkan bahwa pemikiran tersebut merupakan kebenaran atau bukan adalah kecocokannya dengan fakta. Maka dari itu, ketika pemikiran ini dikaji kesesuaiannya dengan fakta, dapat disaksikan bahwa sekelompok manusia di kapal, bagaimana pun banyaknya, tidak akan menjadi masyarakat melainkan hanya menjadi sebuah kelompok saja. Padahal mereka adalah sekumpulan individu. Sementara itu sekelompok manusia yang hidup di sebuah desa, berapa pun jumlahnya, adalah sebuah masyarakat. Faktor yang menyebabkan penduduk desa tersebut menjadi sebuah masyarakat dan tidak menjadikan penumpang kapal sebagai masyarakat adalah: adanya interaksi-interaksi yang kontinyu (al-‘alaqat ad-daimah, continuous relationships) di antara penduduk desa tersebut dan tidak adanya interaksi yang kontinyu pada penumpang kapal. Jadi, yang membentuk sebuah masyarakat adalah interaksi-interaksi di antara manusia, bukan adanya sekumpulan manusia itu sendiri. Dengan demikian, jelaslah bahwa definisi masyarakat sebagai sekumpulan individu, meskipun merupakan pemikiran, namun bukan suatu kebenaran. Berarti tidak setiap pemikiran merupakan kebenaran, kecuali pemikiran tersebut sesuai dengan fakta yang menjadi objek keputusan akal.

Contoh lain, bahwa agama Kristen merupakan pemikiran, adalah benar. Proses pencerapan telah mentransfer pemikiran bahwa Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus adalah satu. Jadi, tiga adalah satu dan satu adalah tiga. Ini sebagaimana matahari yang di dalamnya terdapat cahaya, panas, dan zat matahari itu sendiri. Seluruhnya adalah satu, dan seluruhnya adalah tiga. Begitu juga dengan tuhan, yang terdiri dari Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus. Pemikiran tentang tuhan seperti itu telah memenuhi tuntutan fitrah, yaitu naluri beragama (gharizah at-tadayyun). Keyakinan ini memang merupakan pemikiran. Tetapi yang menjadikannya sebagai kebenaran adalah sesuai atau tidaknya pemikiran tersebut dengan fakta. Ketika ia dicocokkan dengan fakta, dapat disaksikan bahwa tiga itu bukan satu, dan satu itu bukan tiga. Tiga adalah tiga dan satu adalah satu. Adapun bahwa matahari mempunyai cahaya dan panas, tidak menunjukkan bahwa matahari itu tiga, tapi tetap satu, yaitu matahari. Cahaya merupakan satu sifat (karakteristik) dari sifat-sifat matahari, bukan merupakan matahari yang ke dua. Demikian pula panas, ia hanya merupakan satu sifat dari sifat-sifat matahari, bukan matahari yang ketiga. Adapun pemikiran tersebut telah mampu memenuhi tuntutan fitrah, namun itu tidak ada nilainya sedikit pun. Hal tersebut karena naluri beragama membutuhkan pemuasan, sedangkan pemuasannya terkadang salah (atau bahkan menyimpang) dan juga terkadang benar. Menetapkan bahwa tuhan itu satu atau tiga sesungguhnya hanya melalui akal saja, bukan melalui fitrah. Meskipun, syarat pemikiran rasional tersebut harus memenuhi tuntutan fitrah. Berdasarkan penjelasan di atas, maka pemikiran bahwa tuhan itu tiga adalah tidak sesuai dengan fakta tuhan, sehingga ia bukan suatu kebenaran. Maka, agama Kristen bukan suatu kebenaran.

Contoh lain adalah pemikiran bahwa materi berkembang dengan sendirinya, yang dengan itu berlangsung proses penciptaan dan pewujudan (al-îjâd, initiation). Jika dikatakan bahwa pernyataan ini adalah pemikiran, memang benar. Hal tersebut karena telah terjadi proses transfer fakta (yaitu materi yang berubah dari suatu keadaan menuju keadaan lain berdasarkan hukum-hukum yang tetap) melalui penginderaan ke dalam otak. Dengan perubahan tersebut, terjadilah pewujudan sesuatu yang baru yang sebelumnya tidak ada, sehingga ini dikatakan sebagai penciptaan dan pewujudan. Hanya saja yang menunjukkan pemikiran tersebut sebagai kebenaran atau bukan, adalah sesuai tidaknya pemikiran tersebut dengan fakta. Ketika pemikiran tersebut dikaji kesesuaiannya dengan fakta, dapat disaksikan bahwa materi tidaklah mewujudkan benda-benda dari ketiadaan, tetapi dari sesuatu yang telah ada. Hukum-hukum alam telah benar-benar dipaksakan atas materi sehingga materi tidak bisa keluar dari hukum-hukum tersebut. Aktivitas materi tersebut sebenarnya bukanlah penciptaan, demikian pula materi bukanlah pencipta. Dengan demikian pemikiran tersebut tidak cocok dengan fakta pencipta (al-khaliq) dan fakta penciptaan. Pemikiran tersebut bukanlah suatu kebenaran.

Demikianlah, seluruh pemikiran yang telah dan yang akan ada di dunia. Keberadaannya sebagai pemikiran tidak berarti bahwa ia merupakan kebenaran. Pemikiran harus sesuai dengan fakta sehingga menjadi kebenaran. Untuk mengetahui suatu pemikiran merupakan kebenaran atau bukan, pemikiran tersebut harus dikaji kesesuaiannya dengan fakta yang ditunjukkan oleh pemikiran tersebut. Jika sesuai berarti ia merupakan kebenaran, dan jika tidak berarti ia bukan kebenaran.

Berpikir tentang kebenaran tidak berarti hanya melakukan aktivitas berpikir, tetapi harus ada aktivitas berpikir dan sekaligus ada pengkajian kesesuaian pemikiran yang dihasilkan oleh aktivitas berpikir tersebut dengan fakta yang ditunjukkan pemikiran. Apabila cocok maka merupakan kebenaran, dan apabila tidak berarti bukan kebenaran.

Tidak benar jika dikatakan bahwa ada hal-hal yang tidak mungkin dikaji kesesuaiannya dengan fakta karena hal-hal tersebut tidak dapat diindera. Pernyataan seperti itu tidak benar karena syarat berpikir adalah adanya penginderaan terhadap fakta. Maka apa yang tidak bisa diindera, bukanlah merupakan pemikiran, dan selanjutnya, bukan kebenaran. Sebagai contoh, [dzat] Allah bukanlah merupakan pemikiran, tetapi eksistensinya-Nya merupakan kebenaran. Ini dikarenakan panca indera mampu mengindera pengaruh-Nya, yaitu seluruh makhluk yang diciptakan dari ketiadaan, kemudian fakta tersebut dipindahkan ke dalam otak melalui panca indera. Ini menjadikan kita mampu memutuskan tentang keberadaan Allah. Jadi, eksistensi Allah merupakan kebenaran. Adapun dzat (essence) Allah, tidak dapat dijangkau oleh indera. Maka kita tidak bisa memberikan keputusan tentang dzat Allah. Dengan demikian, tidak ada satu pun kebenaran yang telah atau akan dicapai oleh akal, kecuali ia mesti terjangkau oleh panca indera. Kebenaran harus dapat dijangkau oleh indera, dan harus terjadi proses berpikir padanya melalui jalan akal.

Jadi, arti berpikir tentang kebenaran adalah mengkaji kesesuaian pemikiran dengan fakta yang ditunjukkan pemikiran. Jika sesuai berarti merupakan kebenaran dan jika tidak berarti bukan kebenaran. Proses berpikir seperti ini harus dilakukan oleh seluruh manusia baik individu, bangsa, maupun umat, terutama mereka yang memikul tanggung-jawab (betapa pun remehnya tanggung jawab itu) karena pemikiran kerap kali menjadi sumber kesalahan dan kesesatan. Maka dari itu, tidak benar mengambil sembarang pemikiran sebagai suatu kebenaran. Pemikiran itu hendaknya diambil hanya sebagai pemikiran saja. Baru setelah itu dikaji kesesuaiannya dengan fakta yang ditunjukkan oleh pemikiran tersebut. Jika sesuai maka ia adalah kebenaran, dan jika tidak sesuai maka ia bukanlah kebenaran. Berpikir tentang kebenaran dapat berupa proses berpikir kreatif (menggagas pemikiran baru), misalnya melangsungkan aktivitas berpikir untuk menghasilkan sebuah pemikiran [baru], kemudian mengkaji kesesuaiannya dengan fakta hingga pemikiran itu sesuai dengan fakta yang ditunjukkannya. Jika sesuai, pemikiran itu merupakan kebenaran, sedangkan jika tidak sesuai, wajib dilakukan kajian terhadap kebenaran, yaitu kajian terhadap pemikiran yang sesuai dengan fakta yang ditunjukkan pemikiran. Berpikir tentang kebenaran dapat juga bukan merupakan proses berpikir kreatif, tetapi hanya mengambil pemikiran-pemikiran yang sudah ada, lalu mengkaji kebenaran-kebenaran yang ada padanya, misalnya mengkaji kesesuaian pemikiran-pemikiran yang sudah ada dengan kenyataan, untuk mencapai kebenaran.

Dalam pembahasan ini perlu diperhatikan dua hal. Pertama, distorsi-distorsi yang terjadi pada kebenaran. Kedua, distorsi-distorsi yang menyimpangkan upaya untuk mencapai kebenaran.

Distorsi pertama terjadi akibat keserupaan yang terjadi antara kebenaran dengan pemikiran, sehingga keserupaan tersebut dipakai untuk menghapus kebenaran. Hal ini bisa terjadi juga dengan menggunakan suatu kebenaran untuk menghapus kebenaran yang lain. Dalam bentuk lain, terjadi juga dengan cara meragukan salah satu kebenaran bahwa hal itu bukan kebenaran, atau merupakan kebenaran pada situasi tertentu kemudian situasi tersebut berubah, atau dengan cara-cara yang lainnya.

Sebagai contoh, bahwa Yahudi itu musuh umat Islam, adalah kebenaran. Demikian pula bahwa Yahudi musuh dari penduduk negeri yang dinamakan Palestina, juga merupakan kebenaran. Kedua kebenaran itu mirip dan saling tumpang tindih. Namun begitu, distorsi telah menjadikan permusuhan antara Yahudi dan penduduk Palestina sebagai sesuatu yang menonjol, bahkan sebagai satu-satunya fakta yang diperhatikan. Kemiripan kebenaran atau kebenaran yang saling tumpang tindih ini dijadikan alat untuk menghapus kebenaran lain, yaitu permusuhan antara Yahudi dan umat Islam.

Contoh lain, bahwa ide kebebasan (freedom) terdapat di Amerika adalah kebenaran. Dan ide bahwa para presiden Amerika hanya dipilih oleh kaum kapitalis adalah juga kebenaran. Pada kedua ide ini terdapat kemiripan, dalam arti sama-sama menunjukkan realitas Amerika. Namun begitu, kebenaran adanya kebebasan di Amerika telah dijadikan alat untuk menghapus kebenaran bahwa kaum kapitalis adalah pihak yang memilih para presiden Amerika. Setelah kebenaran ini dihapus, maka yang dikenal adalah: bahwa yang berhasil menjadi presiden Amerika merupakan orang paling populer di mata bangsa Amerika.

Contoh lain lagi, bahwa Inggris memusuhi kesatuan Eropa, adalah kebenaran. Jika dikatakan bahwa Inggris ingin memperkuat dirinya sendiri di Eropa yang telah bersatu, adalah kebenaran juga. Kebenaran yang kedua digunakan untuk menghapuskan kebenaran yang pertama, dengan demikian, Inggris ikut masuk dalam Pasar Bersama.

Contoh lain lagi, bahwa Islam sebagai satu kekuatan yang tidak terkalahkan, adalah kebenaran. Namun begitu, terjadi upaya untuk meragukan kebenaran tersebut. Ada opini yang menyatakan bahwa itu bukan kebenaran (atau merupakan kebenaran di masa permulaan Islam), kemudian dengan berubahnya zaman ia tidak lagi menjadi suatu kebenaran.

Demikianlah distorsi-distorsi yang telah terjadi pada kebenaran, sehingga kebenaran-kebenaran dihapuskan, baik dengan kebenaran-kebenaran yang lain, maupun dengan jalan meragukan kebenaran-kebenaran tersebut. Inilah yang dilakukan dengan cerdik oleh Barat terhadap kebenaran-kebenaran yang ada di kalangan kaum Muslim.

Adapun distorsi yang memalingkan kebenaran, terjadi dengan cara mewujudkan aktivitas-aktivitas atau pemikiran-pemikiran yang memalingkan dari kebenaran. Sebagai contoh, bahwa umat Islam tidak akan bangkit kecuali dengan pemikiran, adalah kebenaran. Namun begitu, untuk memalingkan kaum Muslim dari pemikiran,  umat diberi semangat untuk melakukan aktivitas-aktivitas fisik, seperti melakukan berbagai demonstrasi, pemogokan, kerusuhan, dan revolusi. Untuk memalingkan umat dari pemikiran dan menyibukkan mereka dengan berbagai kegiatan, maka dihapuslah kebenaran bahwa umat tidak akan bangkit kecuali dengan pemikiran, lalu diganti dengan pemikiran bahwa umat tidak akan bangkit kecuali dengan revolusi. Demikian juga untuk memalingkan kaum Muslim dari kebenaran kebangkitan, dibuatlah pemikiran-pemikiran bahwa kebangkitan bisa diwujudkan dengan akhlak, ibadah, ekonomi, dan sebagainya. Demikianlah terjadi distorsi untuk memalingkan manusia dari usaha mencapai kebenaran.

Karena itu, harus ada sikap waspada terhadap distorsi-distorsi tersebut. Kebenaran harus dipegang teguh dan digengggam sekuat-kuatnya. Harus ada pula kedalaman berpikir dan keikhlasan ketika berpikir untuk mencapai kebenaran.

Di antara hal paling berbahaya yang terjadi (karena tidak memanfaatkan kebenaran) adalah mengabaikan kebenaran-kebenaran sejarah (haqaiq at-tarikhthe thruts of history). Terutama kebenaran-kebenaran yang mendasar dalam sejarah. Hal ini karena di dalam studi sejarah terdapat fakta-fakta yang tetap yang tidak berubah. Di dalam studi sejarah terdapat pula opini-opini yang lahir dari situasi dan kondisi. Tetapi opini-opini yang lahir dari situasi dan kondisi bukanlah kebenaran, melainkan hanya peristiwa-peristiwa (hawadits, incidents), yang tidak bisa dimanfaatkan dan tidak bisa diterapkan pada situasi dan kondisi yang berbeda. Tapi kenyataannya, sejarah secara keseluruhan telah dipandang dengan satu pandangan saja [hanya sebagai peristiwa]. Kebenaran-kebenaran sejarah telah diabaikan. Tidak ada pembedaan antara kebenaran dan peristiwa. Karena itu, kebenaran-kebenaran sejarah pun tidak diperhatikan.

Sebagai contoh, fakta bahwa Barat menguasai pantai Timur (khususnya pantai Mesir dan pantai Syam) untuk memerangi negara Islam, adalah suatu kebenaran. Sedangkan kemenangan Barat atas umat Islam adalah peristiwa sejarah, bukan suatu kebenaran. Kemudian kebenaran dan peristiwa sejarah bercampur-aduk dan diabaikanlah kebenaran dalam sejarah tersebut, sehingga dilupakanlah fakta bahwa pantai Timur Laut Tengah (Mediterranean Sea) adalah celah yang dari sana musuh [Barat] dapat memasuki negeri-negeri Islam.

Contoh lain adalah fakta bahwa ide nasionalisme telah menggoncang institusi Daulah Utsmaniyah dan kaum Muslim memerangi Barat sebagai kaum Utsmaniyyin yang muslim (bukan semata-mata sebagai kaum Muslim) adalah juga kebenaran. Sementara kekalahan Utsmaniyyin di Eropa dan pada Perang Dunia I adalah suatu peristiwa sejarah. Namun begitu, sejarah perang kaum Utsmaniyyin dengan bangsa Eropa dan sejarah Perang Dunia I, telah dilihat hanya dengan satu pandangan saja. Kebenaran-kebenaran dalam perang tersebut ditinggalkan. Dengan kata lain, kebenaran-kebenaran sejarah telah diabaikan. Kebenaran dan peristiwa sejarah bercampur-aduk dan dilupakanlah fakta bahwa ide nasionalisme adalah sebab kekalahan Utsmaniyyin di Eropa dan pada Perang Dunia I.

Demikian juga halnya seluruh peristiwa-peristiwa sejarah. Telah terjadi pengabaian kebenaran-kebenaran, sehingga kebenaran sejarah tidak dimanfaatkan. Padahal kebenaran sejarah merupakan sesuatu yang paling berharga pada diri manusia dan merupakan jenis pemikiran yang paling tinggi.

Berpikir tentang kebenaran, baik untuk mencapai kebenaran, atau untuk membedakannya dengan pemikiran yang bukan kebenaran, atau untuk memegangnya dengan kuat, maupun untuk memanfaatkannya, adalah proses berpikir yang luhur dan mempunyai pengaruh yang sangat dahsyat terhadap kehidupan individu, bangsa, dan umat. Apa gunanya berpikir, jika suatu kebenaran tidak diambil untuk diamalkan, atau jika kebenaran tidak dipegang dengan teguh? Apa pula gunanya berpikir, jika kebenaran tidak bisa dibedakan dengan yang bukan kebenaran?

Lebih dari itu, kebenaran adalah satu hal yang pasti. Kebenaran bersifat tetap dan tidak berubah-ubah. Kebenaran merupakan satu hal yang yakin dan pasti, yang tidak dipengaruhi oleh perbedaan dan perubahan situasi dan kondisi. Memang benar, pemikiran tidak bisa dilepaskan dari konteks situasi dan kondisi yang melingkupinya. Benar bahwa suatu pemikiran tidak bisa dijadikan standar bagi analogi yang bersifat umum (al-qiyas asy-syumuli, general comparison). Namun begitu, hal tersebut hanya berlaku untuk pemikiran dalam kedudukannya semata sebagai pemikiran, jika pemikiran itu bukan suatu kebenaran. Tetapi jika merupakan kebenaran, tidaklah benar memandang pemikiran tersebut dengan mempertimbangkan konteks situasi dan kondisinya, bagaimana pun juga berubah dan bergantinya situasi dan kondisi yang melingkupinya. Pemikiran tersebut justru wajib diambil sebagaimana adanya tanpa mempertimbangkan lagi situasi dan kondisi yang ada.

Terlebih lagi kebenaran tidak bisa diambil dengan metode ilmiah yang merupakan metode yang bersifat dugaan (ath-thariqah azh-zhanniyyah, probable method), tetapi harus diambil dengan metode rasional yang bersifat yakin (pasti). Hal tersebut karena kebenaran berkaitan dengan keberadaan sesuatu, tidak berkaitan dengan hakikat dan sifat sesuatu. Jika satu pemikiran telah sesuai dengan fakta yang ditunjukkan pemikiran, haruslah kesesuaian ini bersifat pasti, hingga ia bisa disebut sebagai suatu kebenaran. Karena itu, mesti ada proses berpikir tentang kebenaran. Harus pula kebenaran itu dipegang teguh dan digenggam dengan sekuat-kuatnya.

Daftar Pustaka

[1] Detective Conanhttp://s387.photobucket.com/user/escon_line/media/detective_conan.jpg.html, diakses pada 19 Juli 2014, pukul 22.29 WIB

[2] Jimmy Kudohttp://en.wikipedia.org/wiki/Jimmy_Kudo, diakses pada 19 Juli 2014, pukul 22.25 WIB.

[3] Taqiyuddin An-Nabhani. Hakekat Berpikir. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah, 2003.


Ditulis oleh Baharuddin Aziz di Pangalengan, pada 19 Juli 2014, pukul 23.13 WIB.

Diperbarui pada 19 Juli 2014, pukul 23.28 WIB.

Satu tanggapan untuk “Berpikir tentang Kebenaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 × four =