Memaknai Kemerdekaan yang Hampa

Beberapa waktu lalu, tepatnya 17 Agustus 2014, Indonesia merayakan ulang tahunnya yang ke-69, atau sering juga kita sebut sebagai hari kemerdekaan. Tanggal tersebut (pada 69 tahun silam) menjadi titik mula Indonesia terbebas dari penjajah. Namun begitu, apa benar Indonesia telah terbebas dari penjajah? Apa benar sudah tidak ada lagi yang menjajah Indonesia?

Mari kita coba pahami terlebih dahulu makna kemerdekaan dan penjajahan sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Berdasarkan definisi yang tertulis di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), didapati bahwa merdeka memilki arti bebas dari penjajahan. Apa itu penjajahan? KBBI berkata bahwa penjajahan adalah proses menjajah. Lalu, apa itu menjajah? Kata KBBI (lagi), menjajah berarti menguasi dan memerintah suatu negeri (daerah). Bagaimana dengan kemerdekaan? Masih merujuk KBBI, didapati bahwa kemerdekaan adalah keadaan berdiri sendiri (tidak terjajah lagi). Muncul kata baru, terjajah, apa itu terjajah? Terjajah berarti dalam keadaan dijajah.

Kita telah membahas singkat definisi beberapa kata yang berhubungan dengan kemerdekaan. Jika kita coba kaitkan satu dengan yang lainnya, didapati bahwa kemerdekaan merupakan keadaan berdiri sendiri, tidak sedang dikuasi atau diperintah. Mari kita jawab pertanyaan-pertanyaan di awal. Apa benar Indonesia telah terbebas dari penjajah? Tentu tidak, mengapa? Coba kita lihat sekilas lingkungan sekitar yang dekat dengan kita, yang mudah kita lihat. Berapa banyak orang-orang di sekitar kita yang bangga dengan produk asing? Mulai dari benda sehari-hari yang melekat pada diri sampai gaya hidup, mereka lebih cenderung kepada asing. Jelas bahwa ini bentuk penjajahan pemikiran. Lalu, coba kita lihat lebih mendalam, berapa banyak sumber daya alam Indonesia yang dirampas oleh asing? Siapa yang dominan menguasai produksi minyak dan gas bumi serta pertambangan di Indonesia? Ternyata pihak asing juga.[1],[2] Bagaimana dengan utang luar negeri (ULN) Indonesia? Menurut Bank Indonesia (BI), ULN Indonesia pada Januari 2014 tercatat USD 269,3 miliar.[3] Lalu, menurut Kementrian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia, angka sementara utang pemerintah pusat pada Juli 2014 adalah 2.500,94 triliun rupiah.[4] Jelas bahwa ini merupakan bentuk penjajahan politik-ekonomi.

Mari kita coba lihat dokumen yang berkaitan dengan sejarah kemerdekaan Indonesia, Undang-undang Dasar 1945, bagian Pembukaan paragraf ke-4. Di sana tertulis:

“…maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam…”.

Apa artinya? Artinya, Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia disusun untuk mencapai suatu tujuan. Apa itu? Mari kita lihat kalimat sebelumnya yang merupakan tujuan yang diharapkan setelah kemerdekaan.

“…yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia…”, faktanya? Ternyata banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang disiksa hingga beberapa bagian tubuhnya lumpuh[5], bahkan meninggal[6].

“…memajukan kesejahteraan umum…”, faktanya? Menurut Bank Dunia (World Bank), Indonesia termasuk ke dalam kategori negara dengan pendapatan menengah ke bawah (lower middle income) dengan Gross National Income (GNI) atau Pendapatan Nasional Bruto (PNG) per kapita hanya US$ 3.580 pada tahun 2013.[7]

“…mencerdaskan kehidupan bangsa…”, faktanya? Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations), kualitas hidup manusia di Indonesia masih belum tinggi, termasuk pendidikan. Human Development Index (HDI) / Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia hanya 0,684 dengan peringkat 108 dari 187 pada tahun 2013.[8]

“…ikut melaksanakan ketertiban dunia…”, faktanya? Bagaimana sikap Indonesia terhadap konflik di Gaza (Palestina), Suriah, ataupun Rohingya (Myanmar)? Indonesia hanya bisa diam seribu bahasa, kecuali ucapan kecaman. Perjuangan orang-orang yang memiliki jabatan tinggi di pemerintahan tidak berbeda dengan rakyat biasa, sebatas memberi kecaman.[9],[10],[11] Lantas, apa arti jabatan tinggi di pemerintahan kalau tidak bisa memberikan kontribusi yang lebih besar dibanding rakyatnya?

Boleh dibilang kita merdeka secara fisik, walaupun itu masih dipertanyakan. Namun begitu, bisa dipastikan bahwa kita belum merdeka secara pemikiran, juga politik-ekonomi. Masyarakat Indonesia merayakan kemerdekaan, namun yang dirayakannya hanya kemerdekaan yang hampa. Mari kita coba pahami kembali, memaknai kemerdekaan yang masih hampa ini. Mari kita coba kaji kembali dan dapatkan makna kemerdekaan yang hakiki. Tanamkan makna tersebut dalam diri, jadikan penggerak hingga tubuh bergerak otomatis dalam merealisasikan usaha mewujudkan kemerdekaan hakiki. Lantas, bagaimana cara mendapatkan makna kemerdekaan yang hakiki?

Menurut KBBI, hakiki memiliki makna sesungguhnya atau sebenarnya. Berdasarkan petunjuk kebenaran[12], yaitu Al-Qur’an, Allâh mengaitkan kemerdekaan (al-hurr) dengan pembebasan budak dari cengkeraman majikannya.[13] Selain itu, merdeka berarti tidak tunduk menghamba pada manusia.[14] Maka dari itu, makna kemerdekaan yang hakiki adalah bukan penghambaan manusia kepada manusia, melainkan penghambaan manusia kepada Râbb manusia, Allâh subhaanahu wa ta’ala. Bagaimana caranya? Caranya dengan menerapkan perintah-Nya secara keseluruhan[15], mulai dari aktivitas individu, masyarakat, hingga negara yang biasa dikenal dengan sebutan Khilafah.[16]

Wallâhu a’lam bish-shâwab


[1] http://ugm.ac.id/id/berita/8269-merebut.kembali.kedaulatan.migas, diakses pada 22 Agustus 2014, pukul 08.28 WIB.

[2] http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/05/25/06554537/Perusahaan.Asing.Mengancam.Kedaulatan.
Indonesia
., diakses pada 22 Agustus 2014, pukul 08.44 WIB.

[3] Bank Indonesia, Statistik Utang Luar Negeri Indonesia Vol:V Maret 2014 (Jakarta, 2014), hlm. iv.

[4] Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia. Profil Utang Pemerintah Pusat (Pinjaman dan Surat Berharga Negara) Edisi Agustus 2014 (Republik Indonesia, 2014), hlm. 18.

[5] http://regional.kompas.com/read/2013/10/08/2129405/TKW.Sukabumi.Disiksa.sampai.Lumpuh.di.Arab.
Saudi
, diakses pada 22 Agustus 2014, pukul 06.37 WIB.

[6] http://nasional.news.viva.co.id/news/read/319425-tki-cianjur-tewas-dianiaya-di-arab-saudi, diakses pada 22 Agustus 2014, pukul 06.39 WIB.

[7] http://wdi.worldbank.org/table/1.1, diakses pada 22 Agustus 2014, pukul 06.21 WIB.

[8] United Nations Development Programme (UNDP), Human Development Report 2014 (New York, 2014), hlm. 161.

[9] http://news.liputan6.com/read/2076576/sby-serangan-israel-ke-gaza-melampaui-batas-indonesia-mengecam, diakses pada 22 Agustus 2014, pukul 05.17 WIB.

[10] http://www.gatra.com/international/timurtengah/37335-indonesia-kecam-penggunaan-senjata-kimia-di-suriah.html, diakses pada 22 Agustus 2014, pukul 05.21 WIB.

[11] http://www.republika.co.id/berita/internasional/asean/14/05/12/n5gdf3-ormas-islam-desak-myanmar-beri-status-kewarganegaraan-etnis-rohingya, diakses pada 22 Agustus 2014, pukul 05.29 WIB.

[12] Lihat tulisan Berpikir tentang Kebenaran (http://catatan.baha.web.id/1796).

[13] Lihat QS. Al-Baqârah [2]: 178, QS. An-Nisā [4]: 92, QS. Al-Mā’idah [5]: 89, QS. Al-Mujādalah [58]: 3.

[14] Dalam sebuah atsar disebutkan, ketika Rib’i bin Amir, salah seorang utusan pasukan Islam dalam perang Qâdisiyyah, ditanya tentang perihal kedatangannya oleh Rustum, panglima pasukan Persia, ia menjawab, “Allah mengutus kami untuk memerdekakan manusia dari penghambaan manusia kepada manusia menuju penghambaan manusia kepada Râbb manusia, dari sempitnya kehidupan dunia kepada kelapangannya, dari ketidakadilan agama-agama yang ada kepada keadilan Islam.” (kitab Al Bidayah wan Nihayah karya Al Hafidh Ibnu Katsir, Juz 7, Bab Perang Qâdisiyyah)

[15] Lihat QS. Al-Baqârah [2]: 208.

[16] Lihat QS. An-Nisā [4]: 59 – 60, QS. Al-Mā’idah [5]: 44 – 45 dan 47 – 49, QS. Al-Hasyr [59]: 7.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × 4 =