Memaknai Toleransi yang Hakiki

I. Pengantar

Beberapa hari lalu hingga hari ini atau mungkin hingga beberapa hari ke depan media sosial ramai dengan isu toleransi. Toleransi merupakan salah satu isu yang hampir selalu muncul menjelang akhir tahun. Keberagaman agama di negeri inilah yang menjadi salah satu penyebab munculnya isu toleransi tersebut.

Pro dan kontra terhadap pendapat suatu pihak terkait makna toleransi merupakan hal yang sulit dihindari, baik di kalangan masyarakat umum maupun masyarakat elit. Perbedaan pandangan dan ketiadaan pemahaman membawa kondisi pro dan kontra terus terjadi. Maka dari itu, dibuatlah tulisan ini untuk memberikan gambaran ringkas terkait makna toleransi.

II. Definisi Toleransi Menurut KBBI

Pembahasan terkait pemaknaan toleransi dimulai dengan mengetahui dan memahami definisi yang merupakan konvensi bersama. Dalam hal ini diambil definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karena topik ini dibahas dalam bahasa Indonesia. Adapun KBBI yang menjadi rujukan adalah KBBI Daring3. Berdasarkan yang tertulis di KBBI Daring, didapat beberapa definisi sebagai berikut.

  1. to·le·ran a bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yg berbeda atau bertentangan dng pendirian sendiri
  2. to·le·ran·si n 1 sifat atau sikap toleran: dua kelompok yg berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dng penuh –; 2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yg masih diperbolehkan; 3 penyimpangan yg masih dapat diterima dl pengukuran kerja;
  3. ber·to·le·ran·si v bersikap toleran: sifat fanatik dan tidak ~ menjadi penghambat perundingan ini;
  4. me·no·le·ran·si v mendiamkan; membiarkan: Pemerintah tidak akan ~ aparat yg menggunakan dana pembangunan dng dalih berbelit-belit

Jika definisi 1 dan 2 dikaitkan, didapat definisi lengkap dari toleransi, yaitu sifat atau sikap membiarkan pendirian (dalam hal ini kepercayaan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

III. Toleransi dalam Islam

Terkait isu toleransi yang berhubungan dengan agama, tentu pembahasan tidak lepas dari landasan ajaran agama yang bersangkutan. Adapun yang menjadi pembahasan dalam tulisan ini adalah ajaran agama Islam. Maka dari itu, landasan agama yang digunakan pada tulisan ini adalah agama Islam. Beberapa landasan yang berkaitan dengan toleransi adalah sebagai berikut.

1. Islam mengajarkan menolong siapapun, baik orang miskin maupun orang yang sakit.

Dari Abu Hurairah, Nabi shâllallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari no. 2363 dan Muslim no. 2244)2

2. Tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua atau saudara non-muslim.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. …” (TQS Luqman [31]: 15)1

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. …” (TQS Al-Mumtaḥanah [60]: 8)1

3. Boleh memberi hadiah kepada non-muslim.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallâhu ‘anhuma, beliau berkata, “’Umar pernah melihat pakaian yang dibeli seseorang lalu ia pun berkata pada Nabi shâllallâhu ‘alaihi wa sallam, “Belilah pakaian seperti ini, kenakanlah ia pada hari Jum’at dan ketika ada tamu yang mendatangimu.” Nabi shâllallâhu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Sesungguhnya yang mengenakan pakaian semacam ini tidak akan mendapatkan bagian sedikit pun di akhirat.” Kemudian Rasulullah shâllallâhu ‘alaihi wa sallam didatangkan beberapa pakaian dan beliau pun memberikan sebagiannya pada ‘Umar. ‘Umar pun berkata, “Mengapa aku diperbolehkan memakainya sedangkan engkau tadi mengatakan bahwa mengenakan pakaian seperti ini tidak akan dapat bagian di akhirat?” Nabi shâllallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Aku tidak mau mengenakan pakaian ini agar engkau bisa mengenakannya. Jika engkau tidak mau, maka engkau jual saja atau tetap mengenakannya.” Kemudian ‘Umar menyerahkan pakaian tersebut kepada saudaranya di Makkah sebelum saudaranya tersebut masuk Islam. (HR. Bukhari no. 2619)2

4. Membiarkan ibadah dan perayaan non-muslim.

Islam mengajarkan toleransi dengan membiarkan ibadah dan perayaan non-muslim, bukan turut memeriahkan atau mengucapkan selamat. Adapun Islam mengajarkan prinsip-prinsip berikut.

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. (TQS Al-Kafirun [109]: 6)2

“Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” (TQS Al-Isra’ [17]: 84)2

“Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (TQS Yunus [10]: 41)2

“Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (TQS Al-Qashshash [28]: 55)2

IV. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab II dan III didapat kesamaan definisi dan pemahaman terkait toleransi, yaitu membiarkan kepercayaan yang berbeda dengan pendirian sendiri. Membiarkan memiliki makna tidak melarang atau tidak menghiraukan3, maka pemberian selamat ataupun mencampuri hari raya yang bukan kepercayaan sendiri merupakan salah bentuk tidak toleran.

Daftar Pustaka

  1. Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya Dilengkapi dengan Kajian Uṣūl Fiqih dan Intisari Ayat. Bandung: Sygma Publishing, 2011.
  2. Muhammad Abduh Tuasikal. Toleransi dalam Islam. http://rumaysho.com/aqidah/toleransi-dalam-islam-5673, diakses pada 26 Desember 2014, pukul 17.00 WIB.
  3. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (depdiknas) Republik Indonesia. KBBI Daring. http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/.

Wallâhu a’lam bish-shâwab

Sumber gambar: pusakaindonesia.org

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nineteen + eleven =