[Renote] Untuk Apa Manusia Hidup?

Semua hal pasti memiliki alasan baginya untuk ada, buku ditulis agar dapat menyimpan informasi dan menyediakan informasi bagi yang memerlukan, komputer dibuat untuk mempermudah aktivitas pengolahan data bagi manusia. Bahkan, yang sangat sederhana kursi dibuat untuk di duduki. Sama seperti manusia, dia pasti memiliki alasan untuk ada, dan alasan ini haruslah didapatkan dari sumber yang valid dan dapat diandalkan.

Sebuah permisalan untuk memudahkan logika berpikir kita, kita ambil contoh handphone. Handphone adalah ciptaan dan hal ini memastikan bahwa dia punya alasan penciptaan, atau untuk alasan apa handphone itu ada. Alasan itu dapat kita temukan pada sumber yang paling valid dan dapat diandalkan, yaitu dari manual instructions yang datang bersama dengan handphone yang kita beli. manual instructions inilah yang menjelaskan fungsi dan fitur yang terdapat pada handphone, bagaimana cara mengoperasikannya, beberapa anjuran dan larangan, serta memandu cara menyelesaikan masalah yang mungkin timbul. Dengan kata lain, manual instructions inilah yang memuat alasan mengapa handphone itu ada.

Handphone ini tidak akan menemui masalah yang berarti dan tetap akan sesuai dengan alasan mengapa handphone ini ada ketika penggunaannya disesuaikan dengan manual instructions. Sebaliknya, justru akan bermasalah ketika penggunanya tidak menggunakan handphone sesuai dengan instruksi yang terdapat di dalamnya. Misalnya ketika manual instructions yang ada memberikan keterangan bahwa handphone harus di charge dengan listrik bertegangan 220 volt, lalu penggunanya merasa bila handphone akan lebih baik ketika di charge dengan listrik bertegangan 440 volt maka sudah dapat dipastikan handphone itu tidak akan dapat lagi memenuhi alasannya untuk ada, alias rusak.

Sama seperti manusia, yang juga merupakan ciptaan dari Tuhan pencipta semesta alam maka pasti bagi manusia ada alasan untuk apa mereka hidup di dunia. Sama seperti permisalan di atas, alasan bagi manusia untuk hidup di dunia haruslah datang dari sumber yang valid dan dapat diandalkan, yang berasal dari penciptanya, manual instructions yang berasal dari penciptanya. Dari manual instructions inilah manusia akan mengetahui fungsi-fungsi kehidupannya di dunia, fitur-fiturnya, bagaimana cara mengoperasikan, dan penyelesaian masalah yang mungkin timbul.

Problem-nya, manual instructions ini harus dapat dipastikan bahwa dia adalah manual instructions yang benar karena apabila salah maka dia tidak dapat memberikan penjelasan pada manusia tentang alasan adanya manusia di dunia. Sama saja seperti handphone tetapi menggunakan manual instructions mesin cuci. Kebenaran manual instructions dapat ditentukan dari segel yang diberikan oleh penciptanya dalam manual tersebut. Produk yang dibuat oleh pabrik A akan mendapatkan segel dari pabrik A, produk B akan mendapatkan segel pabrik B, demikian seterusnya. Sama seperti manusia yang juga pasti mempunyai manual instructions yang bersegel dari penciptanya untuk menjamin kebenaran alasan untuk apa hidupnya seperti yang ditentukan di dalam manual instructions-nya.

There’s only one truth

Ada lima agama yang diakui di negeri kita dengan lima kitab suci masing-masing, yang berarti ada lima kemungkinan manual instructions. Di antara lima itu, hanya ada satu manual yang layak bagi manusia karena kebenaran itu selalu hanya ada satu. Pada umumnya, di antara kita hanya menerima saja apa yang kita dapatkan tanpa memikirkan dan mempertanyakan apa yang kita yakini? Oleh karena itu, sebagian besar orang memandang tabu untuk mendiskusikan kebenaran, dan cenderung mengambil jalan tengah `semua agama sama’ atau ‘semuanya benar dan bermuara pada satu tuhan’. Padahal, bagaimana mungkin kebenaran mempunyai dua wajah? Akhirnya, pembahasan tentang kebenaran ini menjadi jarang dan agama dipandang sebagai suatu bagian ‘keyakinan individual’ belaka, tanpa diperbolehkan adanya perdebatan. Seharusnya kita memandang agama dan kitab suci sama seperti disiplin ilmu lain, harus teruji dan terbukti karena kebenaran itu selalu ada satu. Karena itulah, akhirnya pilihan harus dibuat.

Seharusnya manusia yang normal akan menggunakan akalnya untuk meneliti agama mana yang benar. Agama yang benar ini harus memenuhi konsep-konsep ketuhanan dan konsep-konsep kitab suci yang rasional argumentatif. Ketuhanan tidak boleh ditentukan dari indikator-indikator yang bersifat relatif dan subjektif, begitupun kebenaran kitab suci juga harus ditentukan oleh indikator yang bersifat rasional dan objektif. Perasaan harus dikesampingkan dalam pembahasan tentang agama mana yang memiliki kebenaran, dan akal yang dikedepankan, karena akal-lah yang dapat menyaring kenyataan berdasarkan argumen-argumen.

Apabila kita menggunakan rasio akal kita yang terbatas maka kita dapat mengatakan bahwa Tuhan -suatu keberadaan yang tidak bisa ditawar-tawar dan tidak bisa dinafikan– yang telah kita buktikan pada pembahasan awal, pastilah, tidak sama seperti yang diciptakan-Nya. The creator must different from the creation. Karena itu, sifat-sifat yang dimiliki oleh Tuhan Sang Pencipta pastilah berbeda dengan sifat ciptaan yang penuh dengan keterbatasan, kelemahan dan saling memerlukan satu dengan yang lainnya. Artinya, sifat-sifat ketuhanan menafikan Dia memiliki sifat seperti makhluk, Sebaliknya, setiap yang memiliki sifat seperti ciptaan yang terbatas, lemah dan memerlukan, pasti tidak layak menjadi Tuhan. Keberadaan Tuhan ini pun haruslah berdiri sendiri dan tidak bergantung pada apapun dan siapapun. Kalaulah Dia berasal dari apapun dan siapapun maka ini juga akan bertentangan dengan sifat-sifat ketuhanan yang seharusnya. Tuhan juga tidak boleh memiliki sekutu bagi-Nya karena bila Tuhan memiliki sekutu, berarti Tuhan tidak mandiri dan bahkan memiliki saingan dalam kekuasaan-Nya, kehendak-Nya dan ilmu-Nya sehingga seharusnya Tuhan ini adalah keberadaan mutlak yang tidak memiliki sekutu manapun.

Begitu pula kitab suci yang menjadi manual instructions bagi manusia maka kitab ini pun haruslah menjamin bahwa ia berasal dari Tuhan dan diperuntukkan kepada manusia. Kitab ini tidak boleh mempunyai pertentangan di dalamnya. Kitab ini juga musti mencakup petunjuk dan solusi atas keseluruhan masalah manusia secara utuh, tidak hanya terbatas pada satu pembahasan dan permasalahan. Kitab ini akan mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, seperti dia mengatur hubungan antara manusia dengan manusia yang lain, juga antara manusia yang bersangkutan dengan dirinya pribadi. Kitab ini harus menjelaskan bagaimana cara manusia melakukan kegiatan ekonominya sebagaimana dia mengatur kegiatan ibadahnya, kitab ini juga harus mengatur kegiatan perpolitikan dan pemerintahan sebagaimana dia mengatur kekeluargaan dan pernikahan, kitab ini juga harus menjelaskan bagaimana cara manusia bergaul dalam masyarakat sebagaimana dia menyediakan solusi dalam masalah akhlak. Semua ini harus dipenuhi oleh kitab suci yang notabene merupakan manual instructions bagi semua masalah manusia, dan masalah manusia terletak pada semua aspek kehidupan. Kemudian, yang terpenting, kitab ini memiliki segel dari Tuhan Sang Pencipta untuk menjamin bahwa kitab inilah kitab manual instructions yang benar.

Islam: The One and Only Truth

Apabila seluruh manusia menggunakan akalnya dengan baik untuk berpikir secara menyeluruh maka sesungguhnya mereka akan mendapatkan satu dan hanya satu kebenaran yang memenuhi seluruh persyaratan tentang Tuhan Sang Pencipta dan Kitab Suci yang merupakan manual instructions bagi manusia. Kebenaran itu adalah Islam. Islam adalah satu-satunya agama yang dapat diperoleh dengan jalan rasional argumentatif. Berbeda dengan agama yang lain yang hanya berlandaskan pada perasaan yang cenderung relatif serta menambah-nambah dan mengada-ada, Islam justru melandaskan pokok-pokok keimanannya pada proses berpikir yang meniscayakan akal.

Al-Qur’an; definite manual instrucions

Pada saat kita melihat dan memerhatikan kitab-kitab serta buku-buku textbook dan buku-buku pada umumnya, kita dapat melihat pada bagian-bagian awal, yaitu kata pengantar pada buku yang menjelaskan untuk apa buku itu dibuat dan kepada siapa buku itu diperuntukkan? Biasanya, kita selalu membaca pada akhir kata pengantar itu kalimat-kalimat semisal ini: “Tidak ada gading yang tidak retak, begitupun isi daripada buku ini yang masih jauh dari kesempurnaan. Saran dan kritik sangat diharapkan untuk memperbaiki tulisan dan menambah pengalaman penulis yang masih hijau ini”. Kalimat yang digunakan menyampaikan maksud daripada penulis bahwa buku ini tidaklah sempurna dan lengkap, serta kemungkinan penulis melewatkan sesuatu atau salah dalam pembahasan pada bukunya.

Al-Qur’an pada ayat-ayat yang awal juga menjelaskan untuk apa kitab ini dibuat sekaligus menunjukkan bagi siapa saja kitab itu dibuat dan diperuntukkan? Sebagai bukti, ini adalah ‘kata pengantar’ di dalam Al-Qur’an:

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa” (TQS AI-Baqarah [2]: 2)

‘Kata pengantar’ yang sangat istimewa dan menunjukkan kebesaran Sang Pencipta pada awal kitab. Kalimat tersebut mewakili Sang Pencipta, untuk memberitahu manusia bahwa kitab itu sempurna dan tidak ada kesalahan dan keraguan di dalamnya. Menegaskan kepada seluruh manusia bahwa kitab ini bukanlah kitab sembarangan, dan bukanlah kitab yang dibuat oleh manusia karena manusia yang tidak sempurna tidak mungkin mengadakan sesuatu yang sempurna. Muncul pertanyaan pada diri kita, mengapa Al-Qur’an berani mengklaim dirinya sebagai suatu kitab yang tidak ada keraguan padanya? Hal ini dijawab dalam AI-Qur’an kembali, dalam ayat yang berbeda pada surah yang sama:

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (TQS Al-Baqarah [2]: 23)

Apabila tadi Al-Qur’an menggunakan ayatnya untuk memberikan kesan kebesaran Sang Pencipta, maka kini, Al-Qur’an memberikan sebuah tantangan yang diperuntukkan untuk seluruh manusia, lebih spesifiknya kepada setiap manusia yang meragukan kebenaran dan kesempurnaan Al-Qur’an. Logikanya sangat adil, bila ada seorang manusia yang bisa mendatangkan satu surah saja yang semisal dengan Al-Qur’an maka itu membuktikan bahwa Al-Qur’an salah dan tidak perlu baginya untuk mengambilnya sebagai petunjuk. Namun, apabila tidak ada seorangpun yang mampu maka mereka seharusnya ikut mengambil Al-Qur’an. Simple. Bahkan, sebenarnya logikanya sangat tidak adil, Sang Pencipta memperbolehkan seluruh manusia dan jin untuk bersekutu dan berkoalisi dalam rangka menyambut tantangan membuat satu surah semacam Al-Qur’an ini. Sebuah tantangan yang menunjukkan kebesaran dan ke-Maha-an dari-Nya.

Oleh karena itu, ayat ini dan ayat yang semisalnya dalam Al-Qur’an sejatinya adalah sebuah segel yang datang dari Tuhan pencipta manusia untuk membuktikan bahwa inilah kitab yang layak menjadi manual instructions bagi manusia yang mau menggunakan akalnya. Pilihan pada manusia berakal hanya ada dua; apakah dia bisa mengadakan yang semacam dengan Al-Qur’an atau dia mengambil Al-Qur’an sebagai jalan hidupnya. Dengan kata lain, Islam adalah satu-satunya pilihan bagi manusia yang menggunakan akalnya. lnilah manual instructions bagi manusia, inilah buku petunjuk satu-satunya yang dapat dibuktikan secara rasional.

Alasan Hidup Manusia: lbadah kepada Allah Swt.

Dengan bekal bahwa Al-Qur’an adalah manual yang benar inilah, kita menemukan bahwa nama Tuhan itu adalah Allah Swt. Kita juga dapat menentukan jawaban atas pertanyaan besar manusia yang kedua “Untuk apa manusia hidup di dunia?”, yaitu untuk beribadah kepada Allah Swt secara total dalam kehidupan ini.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (TQS Adz-Dzaariyat [51]: 56)

Inilah alasan satu-satunya manusia hidup di dunia, dan alasan ini sangat masuk akal dan terjamin kebenarannya karena dinukil dari kitab yang menjadi manual instructions bagi manusia yang juga telah dibuktikan kebenarannya dengan menggunakan akalnya. Ketika akal telah membuktikan kebenaran Al-Qur’an maka fakta apapun yang diterangkan dan disampaikan Al-Qur’an adalah juga pasti benar dan masuk akal. Allah menerangkan dalam ayat-Nya dengan memakai dua kata negasi di dalam ayat tadi. Allah tidak mengatakan “Aku menciptakan jin dan manusia supaya mereka beribadah kepada-Ku” tetapi menggunakan dua kalimat negasi “tidak” dan “kecuali”. Ini berarti bahwa penciptaan manusia benar-benar tidak mempunyai tujuan selain beribadah kepada Allah dalam totalitas kehidupannya.

Islam Kaaffah

lbadah dalam Islam tidak boleh diartikan sebagai sesuatu yang bersifat sempit yang hanya berkisar sekitar ibadah mahdhah atau ibadah ritual. Namun, ibadah dalam arti sesungguhnya adalah setiap aktivitas manusia yang disesuaikan dengan kehendak Allah Swt selama 24 jam karena Allah sudah menegaskan kepada manusia bahwa satu-satunya alasan hidupnya adalah beribadah. Apabila ibadah hanya seputar shalat dan ritual yang lain maka bagaimana dengan segmen hidup manusia lainnya, seperti ekonomi, politik, budaya, pergaulan dan lainnya, apakah itu bukan ibadah? Inilah yang disebut dengan Islam yang kaaffah, yaitu Islam secara keseluruhan, sebagai bentuk penghambaan total kepada Allah sesuai dengan yang disampaikan Allah dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, sejatinya bagi seorang Muslim, setiap aktivitasnya, baik shalat, zakat, puasa haji, bekerja, berinteraksi dengan manusia lain, berekonomi, berpolitik dan pemerintahan adalah ibadah yang harus diselesaikan menurut solusi yang telah diberikan Allah Swt di dalam Al-Qur’an.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan” (TQS Al-Baqarah [2]: 208)

Oleh karena itu, miris sekali ketika melihat keadaan kaum Muslim saat ini, mereka mengaku sebagai seorang Muslim, mengucapkan syahadat dan memiliki Al-Qur’an. Namun, Al-Qur’an hanya sekadar pajangan di ruang tamu atau di atas lemari. Al-Qur’an hanya sebagai pertanda bahwa mereka adalah Muslim. Ada sebagian dari kaum Muslim yang selalu membawa Al-Qur’an kemanapun mereka pergi, membacanya ketika selesai wirid dan dzikir, namun sayang, apa yang mereka baca tidak mereka pahami dan mengerti. Ada lagi sebagian kaum Muslim yang membaca Al-Qur’an, mengerti dan memahaminya, lalu mereka mengajarkannya di universitas-universitas Islam terkemuka di dunia, mereka menyandang gelar syaikh dan ustadz, namun mereka tidak menjadikan pemahaman itu kecuali sekadar teori tanpa penerapan. Ada pula sebagian kaum Muslim yang membaca Al-Qur’an, memahami dan menerapkannya, namun ia memilih dan memilah Al-Qur’an yang dianggap tidak berisiko akan dia laksanakan, sedangkan yang dianggap berisiko akan ditinggalkannya. Dia mengambil sebagian Al-Qur’an lalu melupakan sebagian yang lain, tepat seperti yang Allah peringatkan kepada hamba-Nya untuk tidak mengambil kesalahan sebagaimana orang Yahudi.

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?” (TQS Al-Baqarah [2]: 85)

Lihatlah kaum Muslim sekarang, banyak yang mengerjakan shalat lima waktu, bahkan mengadakan pelatihan-pelatihan shalat, menghabiskan banyak uang dan waktu untuk khusyuk dengan shalat mereka walaupun pada faktanya mereka tidak pernah khusyuk. Mereka menganggap penting sekali shalat mereka, mereka membahasnya dalam setiap majlis ta’lim seolah-olah hanya shalat sajalah permasalahan kaum Muslim. Mereka membahas tentang zakat dalam seminar-seminar dan banyak bermunculan lembaga-lembaga pengelola zakat yang meyakinkan ummat bahwa masalah ekonomi ummat akan dapat diselesaikan hanya dengan zakat, padahal mereka belum memahami tujuan zakat sebenarnya. Mereka disibukkan dengan ibadah puasa ramadhan yang datang setiap tahunnya, dan beribadah total pada bulan itu seolah-olah Allah Swt hanya melihat pada satu bulan saja, lalu mengulangi kesalahan yang sama setelah bulan ramadhan. Demikian pula, banyak di antara kaum Muslim yang setiap tahunnya berebut untuk menjadi jama’ah haji. Bahkan, antrean naik haji sampai bertahun-tahun, semangat mereka sangat luar biasa untuk menyambut panggilan Allah ke tanah suci Makkah dan Madinah, namun semua itu buyar percuma ketika mereka pulang lalu diam melihat berbagai kemaksiatan yang terjadi.

Kita yakin, bahwa Muslim yang melakukan shalat lima waktu dengan tepat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan berhaji ke Makkah, semua itu bukanlah mereka lakukan untuk mencari keridhaan manusia. Bukan untuk mendapatkan pujian dari manusia, bukan pula karena manusia yang mewajibkannya. Namun, karena Allah yang mewajibkannya. Allah Swt memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya dengan kewajiban-kewajiban seperti shalat, zakat, puasa dan haji. Semua itu dituliskan-Nya di dalam kitab-Nya yang agung. Namun, bila kita ingin jujur, di dalam kitab yang sama, banyak sekali kewajiban yang juga disampaikan secara lugas dan gamblang, namun ditolak dan diingkari pengamalannya oleh kaum Muslim.

Sungguh ironis, tanpa sadar kaum Muslim mulai menjadikan dirinya sebagai Tuhan, yang seolah tahu, mana yang harus dikerjakan dan ditinggalkan? Padahal, seruan wajibnya shalat di dalam Al-Qur’an:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (TQS Al-Ankabut [29]: 45)

Sama wajibnya seperti ayat berikut:

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (TQS Al-Maaidah [5]: 38)

Kemudian, kewajiban menghormati orangtua seperti perintah Allah Swt dalam ayat Al-Qur’an:

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.” (TQS Al-Ankabut [29]: 8)

Sama wajibnya sebagaimana ayat Al-Qur’an:

“lni (adalah) satu surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya. Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera” (TQS An-Nuur [24]: 1-2)

Dapat kita lihat dengan jelas, bahwa kedua contoh ayat berasal dari kitab yang sama, dengan seruan yang sama wajibnya. Ayat yang satu diamalkan dengan sempurna, diajarkan dan dibahas dengan sangat intensif, sementara ayat yang satunya lagi diingkari dan tidak pernah diamalkan. Tentu, dengan ribuan alasan dan disertai dalil-dalil pembenaran. Mengambil sebagian dan mencampakkan sebagian yang lain, persis seperti kaum Yahudi dan Nasrani.

Dikutip dari: Felix Siauw, Beyond the Inspiration (Jakarta: Khilafah Press, 2012), hlm. 113-125

Sumber Gambar: timedotcom.files.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × five =