Memelihara Kemuliaan Akhlak

Akhlak

Akhlak mulia adalah bagian yang tak terpisahkan dari ajaran Islam. Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kemuliaan seseorang ada pada agamanya, kehormatannya ada pada akalnya dan keagungannya ada pada akhlaknya.” (HR Ahmad, al-Hakim dan ath-Thabrani).

Bahkan membentuk dan menyempurnakan akhlak mulia adalah salah satu misi utama Rasulullah SAW diutus ke dunia. Rasulullah SAW sendiri yang menyatakan demikian, sebagaimana dinyatakan oleh Abu Hurairah ra, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, wajar jika akhlak mulia adalah salah satu yang disukai Allah SWT. Sebaliknya, akhlak yang buruk adalah perkara yang dibenci Allah SWT. Dalam hal ini, Amir bin Said bin Abi Waqash ra dari bapaknya berkata, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Mahamulia yang menyukai kemuliaan; Allah itu Mahamurah yang mencintai kemurahan dan kemuliaan akhlak serta membenci keburukan akhlak.” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).

Inilah pula yang menjadi alasan Rasulullah SAW selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT agar menunjukkan kepada beliau akhlak mulia. Demikianlah sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib ra. bahwa Rasulullah saw. pernah memohon dalam salah satu doanya, “Ya Allah, tunjukilah aku pada akhlak yang paling mulia, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa menunjuki aku pada akhlak yang paling mulia kecuali Engkau, dan palingkanlah aku dari akhlak yang buruk, dan tidak ada yang bisa menghindarkan aku dari akhlak yang buruk kecuali Engkau.” (HR Ahmad).

Akhlak mulia adalah salah satu amalan atau sifat orang Mukmin yang bakal menjadi penduduk surga. Demikianlah menurut sabda Rasulullah SAW, sebagaimana dituturkan oleh Anas bin Malik ra. “Sesungguhnya kemuliaan akhlak adalah bagian dari amalan penduduk surga.” (HR Ibn Abi Dunya’).

Rasulullah SAW memberi kita contoh di antara akhlak mulia yang harus kita miliki sebagaimana yang beliau ajarkan kepada Uqbah bin Amir ra, “Wahai Uqbah, maukah engkau aku beritahu akhlak yang paling mulia dari penduduk dunia dan akhirat? Yaitu engkau menyambungkan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya; engkau memberi kepada orang yang tak pernah memberi kepadamu; dan engkau memaafkan orang yang telah menzalimi kamu.” (HR Al-Hakim dan ath-Thabrani).

Perbuatan akhlak di atas bahkan dengan kualitas keimanan seorang Muslim. Beliau bersabda sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Tidaklah seorang hamba dapat meraih keimanan yang benar hingga ia menyambungkan hubungan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya, memaafkan orang yang menzalimi dirinya, mengampuni orang yang mencelanya dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepada dirinya.” (HR Ibn Abi Dunya’).

Wajarlah jika perbuatan akhlak di atas di atas dapat meringankan hisab Allah SWT atas manusia di akhirat kelak. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada tiga perkara yang siapapun memilikinya maka Allah akan menghisab dirinya dengan penghisaban yang mudah dan ringan serta memasukkan dirinya ke dalam surga-Nya dengan rahma-Nya, yaitu: engkau memberi kepada orang yang tidak pernah memberi kepadamu; engkau memaafkan orang yang telah menzalimimu; dan engkau menyambungkan hubungan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya.” (HR Al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Namun demikian, pada akhirnya, akhlak mulia tetaplah merupakan buah dari ketakwaan seorang Muslim kepada Allah SWT. Orang bertakwalah—tentu dengan akhlak mulianya—yang paling mulia di hadapan Allah SWT. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasullah SAW pernah ditanya, “Siapa manusia termulia.” Beliau menjawab, “Orang yang paling bertakwa.” (HR Ibn Abi Dunya’).

Hanya dengan takwa itulah manusia bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang dituturkan oleh Ibn Abbas ra, “Siapa saja yang kebahagiaannya adalah menjadi orang yang paling mulia, hendaklah ia bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Siapa saja yang kebahagiaannya adalah menjadi orang yang paling kuat, hendaklah ia bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Siapa saja yang kebahagiaannya adalah menjadi orang yang paling kaya, hendaklah ia lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah SWT lebih daripada apa yang ada pada dirinya sendiri.” (HR Al-Baihaqi).

Maka dari itu, wajar jika ketakwaan menjadi pilihan orang-orang yang cerdas dan mulia. Dalam hal ini, Ibn Umar ra suatu ketika pernah mendatangi Rasulullah SAW Lalu datang seseorang dari kalangan Anshar kepada beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling cerdas dan paling mulia?” Beliau menjawab, “Dia yang paling banyak mengingat mati, paling keras usahanya dalam mempersiapkan bekal menghadapi kematian. Itulah orang yang paling cerdas. Mereka pergi dengan membawa kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR Ibn Abu Dunya’). (Ibn Abi ad-Dunya’, Makarim al-Ikhlaq, Maktabah Syamilah).

Karena itu, mari kita senantiasa memelihara kemuliaan akhlak kita. Wa ma tawfiqi illa bilLah.

 

Dikutip dari:

hizbut-tahrir.or.id [diakses 18 Februari 2013 | pukul 18.07 (GMT+7)]

 

Sumber Gambar:

naofalchilmi.files.wordpress.com [diakses 18 Februari 2013 | pukul 18.14 (GMT+7)]

 

Bandung, 18 Februari 2013 | pukul 18.32 (GMT+7)

Baharuddin Aziz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

18 − 15 =