Cerita Kuliah S2 RMKI ITB: Pra Kuliah (Bagian 3)

cerita kuliah s2 … RMKI ITB

Cerita Kuliah S2

Gerbang terbuka, para calon mahasiswa pun masuk satu-persatu. Para panitia memberi arahan terkait tempat duduk yang harus kita tempati. Aku pun duduk di kursi barisan paling degan berdekatan dengan orang-orang yg tadi antreannya dekat denganku. Kami melanjutkan obrolan. Panitia memberi tahu kami untuk meriksa ulang dokumen yang perlu dilengkapi. Kami pun mengecek dokumen masing2. Namun, ternyata ada beberapa orang di sekitarku panik karena ternyata ada berkas yg terlewat. Ada jg yg masih ragu apakah dokumen yg mereka siapkan sudah benar atau belum.

Salah satu dari kami menanyakan ke panitia terkait dokumen tersebut. Dan benar bahwa dokumen tersebut hrs disiapkan bagaimanapun juga. Kemudian panitia memberi arahan kalau di luar ruangan panitia sudah menyiapkan fasilitas utk mengatasi masalah tersebut. Akhirnya orang tersebut pamit kepadaku utk keluar gedung demi melengkapi kekurangan dokumennya.

Melihat kondisi tsb, aku pun jd panik. Panik krn masih ragu dgn yg telah aku siapkan terkait dokumen tsb. Akupun menanyakan ke panitia. Untungnya apa yg telah kupersiapkan diperbolehkan. hatipun menjadi sedikit lega. Tak lama kemudian, satu persatu nama kami dipanggil utk menyerahkan berkas-berkas. terdapat lembar kontrol yang diisi oleh panitia utk menandai kelengkapan berkas. Aku pun menyerahkan berkas-berkas yg diminta disertai lembar kontrol. Beberapa detik panitia melihat dan memeriksa berkas-berkas yg kuberikan. Kelihatannya berkas yg kuberikan sudah sesuai dgn yg diminta, panitia yg memeriksa pun memberi keterangan pada lembar kontrol bahwa aku udh menyerahkan berkas2 pada tahap ini. Akupun diminta utk melanjutkan proses ke tempat selanjutnya.

Proses selanjutnya adalah proses yg paling kutakutkan. Pasalnya, aku yakin melengkapi berkas2, tapi aku ragu kalau berkas tsb akan diterima. Ragu krn nilai yg tercantum pada berkas tsb di bawah batas minimal. Rasanya detak jantung terus meningkat seiring berjalannya waktu. Lalu, tak sadar ternyata namaku dipanggil. Dag dig dug jantung terus berdebar seiring kaki melangkah ke kursi tempat pemeriksaan. Aku pun pelan-pelan mengeluarkan berkas yg diminta dari dlm tas. Kemudian dgn harap cemas memberikan berkas tersebut kpn panitia yg duduk di depanku.

(bersambung) — ditulis sambil mendengarkan Moonlight Sonata 1st Movement (Beethoven)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 − ten =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.