Kelemahan Berdiskusi di Dunia Maya

Salah satu kelemahan diskusi di dunia maya adalah masing-masing pihak tidak bisa berhadapan secara langsung. Selain itu, kelemahan yang lain adalah karena modal diskusi adalah copy paste, bukan apa yang dipahami. Model diskusi seperti ini pada akhirnya akan menimbulkan caci maki. Apalagi jika ini sudah menyangkut institusi (Hizbut Tahrir misalnya). Jika sudah kalah argumen, maka meracaulah mulut itu sekenanya. Beberapa argumen yang menunjukkan kekalahan intelektual adalah jika sudah tidak memiliki argumen, tapi masih nekat bicara, tapi isinya caci maki. Misalnya, dikatakanlah akhlak orang Hizbut Tahrir itu buruk-buruk, atau orang Hizbut Tahrir itu maunya menang sendiri, dan sebagainya.

Dalam hal diskusi, sering dikatakan bahwa syabab Hizbut Tahrir selalu menolak pendapat orang lain, mau menang sendiri, dan menganggap pendapat orang lain salah. Ada memang yang seperti itu, ada pula yang tidak. Tetapi hendaknya hal tersebut dipahami sebagai upaya mempertahankan argumen. Sebab, dalam berdiskusi, ketika seseorang yakin bahwa argumennya benar, maka dia harus bisa menunjukkan: dimana kebenaran argumen dia, dan dimana kesalahan argumen lawan diskusi. Dimana-mana yang namanya diskusi ya memang ‘harus’ seperti ini. Jika yakin, silahkan dipertahankan argumennya. Bukannya mencari bahan pembicaraan lain, yang tidak ada hubungannya dengan tema diskusi.

Jika orang telah kalah argumennya kemudian dia masih mencari-cari alasan untuk bisa ‘membenarkan’ argumennya, jelas orang ini lebih mendahulukan hawa nafsu daripada kebenaran fakta. Orang seperti ini jelas akhlaknya bukan akhlak Islam. Seharusnya orang tersebut segera mengakui argumen lawan yang lebih kuat dan argumennya lemah. Dalam kondisi itu, dia selayaknya mengikuti pendapat yang terkuat argumennya. Dia bisa segera meninggalkan argumen tersebut, ketika di kemudian hari dia menemukan argumen yang jauh lebih kuat. Tetapi selama dia tidak menemukan argumen yang lebih kuat, maka dia tidak boleh meninggalkan pendapat tersebut.

Contoh:

Si A berdiskusi dengan Si B. Jika argumen Si A lebih kuat, maka Si B harus mengikuti pendapat Si A. Si B bisa berpindah pendapat kepada yang lainnya (misal Si C), ketika dia mendapati argumen yang baru (argumen Si C) lebih kuat. Tetapi jika dia tidak mendapati bahwa argumen Si C lebih kuat, maka hendaknya dia tetap berpegang pada argumen Si B. Boleh saja Si A berkonsultasi kepada Si C, Si D, atau Si E. Tetapi harus dikonfirmasikan kembali kepada Si B. Jika argumen Si B ternyata juga lebih kuat, maka hendaknya Si A tetap berpegang pada pendapat Si B. Jika dia masih mencari ‘pembenaran’ dari yang lain lagi, maka Si A harus bisa membersihkan hatinya. Sebab, sikap-sikap seperti ini bisa mengotori hati.

Beginilah yang seharusnya.

Hizbut Tahrir tidak pernah menganggap bahwa pendapatnya atau ijtihadnya yang paling benar. Hizbut Tahrir hanya menduga kuat (ghalabatuzh zhann) bahwa pendapatnya adalah yang paling mendekati kebenaran.

Adapun, jika Hizbut Tahrir melakukan kritik atas suatu pandangan atau pendapat atau ijtihad, maka sebenarnya hal itu biasa-biasa saja, dan umum di kalangan tradisi kaum muslim. Hal seperti ini tidak boleh dipahami bahwa Hizbut Tahrir tidak menghargai perbedaan pendapat atau Hizbut Tahrir merasa paling benar. Tidak boleh dipahami seperti ini. Sebab, Hizb hanya melakukan kritik.

Dalam sebuah kritik, sikap menyalahkan adalah hal biasa. Bagi yang dikritik, jika ingin membela argumen, itu juga hal yang biasa. Ya, semua biasa saja. Dalam konteks mencari argumen terkuat atau mencari pendapat yang mendekati kebenaran, hal seperti ini biasa saja terjadi. Mengkritik itu biasa, membela pendapat itu juga hal yang biasa.

Tetapi adanya sentimen kelompok seringkali menutupi hal seperti ini. Sentimen kelompok ini bisa datang dari orang yang aktif di sebuah kelompok yang kemudian membenci hizb. Bisa juga datang dari seseorang yang tidak terikat dengan kelompok, tapi ternyata juga membenci hizb. Dikarenakan Hizb selalu membela diri jika dikritik. Inilah yang dimaksud sentimen kelompok. Sikap seperti ini, telah menutup akal dan hati seseorang, terhadap pendapat-pendapat hizb. Padahal, belum tentu pendapat hizb salah. Sikap seperti ini telah menimbulkan persepsi negatif atas hizb, dan seterusnya akan membenci hizb. Tidak heran jika ada ungkapan, “Orang, kalau dasarnya benci, apa pun pasti ditolak.” Kita berlindung kepada Allah dari sikap-sikap seperti ini.

Kemudian, ketika hizb melakukan kritik atas suatu pendapat, itu sah-sah saja. Lalu yang dikritik melakukan pembelaan atas pendapatnya yang dikritik hizb, itu juga sah-sah saja. Tetapi sikap membela diri, haruslah berisi argumen yang mengokohkan pendapatnya, bukan membela diri dengan balik mengkritik. Itu namanya bukan membela diri, tetapi melakukan kritik. Jika sudah seperti ini, maka sebenarnya sudah kelihatan bahwa pendapat yang dikritik hizb adalah pendapat yang lemah. Buktinya, dia tidak bisa melakukan pembelaan diri atas pendapatnya. Oleh karena itu, jika Anda memang yakin dengan pendapat Anda, maka pertahankanlah dengan argumen yang lebih kuat, bukan dengan balik mengkritik.

Misalnya, diskusi tentang “halal-haramnya demokrasi”. Jika memang demokrasi itu halal, maka orang yang menghalalkannya juga harus mengeluarkan argumen tentang kehalalannya. Bukannya mengeluarkan argumen lain yang tidak ada hubungannya dengan tema diskusi, yaitu “halal-haramnya demokrasi”. Misalnya, dikeluarkanlah argumen tentang “menikmati demokrasi”. Atau, mengeluarkan argumen yang mengkritik kalangan penolak demokrasi dengan inti pembicaraan “katanya menolak demokrasi, tapi kok menikmati demokrasi”, “penolak demokrasi harus berterima kasih pada demokrasi karena mereka dibiarkan leluasa di negara demokrasi”, “katanya menolak demokrasi, tapi kok setuju pemilu dan ikut buat KTP?”, dan lain-lain. Intinya, tidak ada argumen yang memperkuat kebolehan demokrasi. Yang ada hanya argumen yang tidak ada hubungannya dengan halal haramnya demokrasi. Pertanyaanya: jika memang para penganut sistem demokrasi itu yakin dengan jalan yang ditempuhnya, kenapa mengeluarkan argumennya untuk memperkokoh pendapat mereka sendiri? Kenapa yang ada hanyalah ungkapan-ungkapan yang tidak ada hubungannya dengan halal haramnya demokrasi? Aneh bukan?

Ketika Hizbut Tahrir dikritik pendapatnya, lalu Hizb membela pendapatnya, maka sikap seperti ini tidak boleh dikatakan sebagai sikap ‘antikritik’. Lebih keji lagi jika dikatakan sebagai sikap ‘merasa yang paling benar’. Atau dikatakan, “Hizb, kalau mengkritik orang emang jago, tapi giliran dikritik tidak mau.”

Jelas, sikap seperti ini adalah sikap orang putus asa dan pengecut. Sikap seperti ini adalah sikap orang yang tidak yakin dengan pendapatnya, atau yakin tapi sekadar yakin, atau yakin tapi tanpa dasar yang kuat.

Silakan saja orang mengkritik pendapat-pendapat Hizbut Tahrir. Asal bukan fitnah, bagi Hizb, hal itu biasa-biasa saja. Tetapi, ketika hizb melakukan pembelaan diri atas pendapat-pendapatnya, itu juga sah-sah saja. Mengapa? Sebab, hizb yakin dengan pendapatnya, sebab hizb punya dasar, punya argumen. Jadi, bukan hal yang aneh jika hizb membela diri. Tetapi, sayang sekali, sebagian pihak belum cukup dewasa dalam memahami hal ini dengan mengatakan, “Hizb tidak terima ketika pendapatnya dikritik. Makanya selalu dibela terus.” Sikap orang seperti ini adalah sikap orang yang berputus asa. Sikap yang tidak yakin atas pendapatnya. Sikap seorang pengecut, takut jika pembelaan-pembelaan dari hizb itu lebih kuat argumennya. Masya Allah.. Semoga Allah melindungi kita dari sikap seperti ini.

Dalam konteks diskusi, hizb memandang bahwa pendapatnya yang paling mendekati kebenaran, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk salah. Hizb juga memandang bahwa pendapat yang lain salah, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk benar.

Munculnya sikap emosional dari orang-orang yang berdiskusi (termasuk juga orang hizb), menurut saya itu terjadi karena adanya sikap ‘keras kepala’ dari salah satu pihak, yaitu ketika argumennya kalah, kemudian mencari pembenaran dari orang lain lagi, dan masih kalah lagi. Semoga kita terhindar dari sikap seperti ini.

Lebih buruk lagi, jika diskusi diikuti oleh sikap cengengesan dan guyon (kata orang Jawa). Diskusi seperti ini memang tidak serius. Sebaiknya memang diskusi seperti ini harus ditinggalkan. Celakanya, ada yang memanfaatkan emoticon sebagai sarana untuk “membungkus” sikap cengengesannya itu. Misalnya, emoticon seperti ini: ^_^ atau 🙂 atau yang lainnya, dimanfaatkan sebagai “bumbu-bumbu” diskusi. Alasannya sih, macam-macam. Misalnya: biar diskusi nggak panas, senyum itu ibadah, walau diskusi tapi tetap senyum, dan lain-lain. Na’udzubillah. Semoga kita dijauhkan dari sikap seperti ini dan segeralah kita membersihkan diri.

Cukuplah dunia maya ini menjadi sarana komunikasi, mendapatkan serta berbagi informasi, dan motivasi, sebagai modal untuk dakwah di tengah-tengah masyarakat. Dakwah yang riil, adalah dengan kontak. Kontak yang sesungguhnya adalah bermuwajahah (bertemu langsung orangnya). Oleh karena itu, dakwah di tengah-tengah masyarakat itulah ‘dakwah yang sesungguhnya’ yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Usaha untuk mengubah masyarakat di dunia nyata, akan menjadi perubahan yang nyata. Usaha untuk mengubah masyarakat di dunia maya, hanya akan menghasilkan perubahan yang bersifat maya (semu). Cukuplah revolusi Tunisa dan Mesir menjadi contoh nyata. Bahwa revolusi yang tidak dilandasi kesadaran masyarakat yang riil dan metode yang syar’i, akan mudah dibajak oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan busuk.

Menurut saya, tidak perlu serius. Mengapa? Sebab, (bisa jadi) dia juga tidak serius. Apalagi kita sendiri sudah tahu, bahwa dia ‘tidak mungkin’ mengikuti kita. Orang yang kita ajak diskusi, juga itu-itu saja. Jadi, apa yang bisa kita harapkan dari dia?

Kesimpulannya, berbeda pendapat itu boleh. Sah-sah saja, sebab Islam memang telah meniscayakan terjadinya perbedaan pendapat. Tetapi kita harus bisa memahami, kapan boleh berbeda pendapat dan kapan tidak boleh berbeda pendapat. Kita juga harus paham, dalam perbedaan pendapat pun, harus diperhatikan, yaitu perbedaan itu tidak boleh membahayakan eksistensi Islam dan kaum muslimin. Jika ada yang merasa berbeda, tetapi pandangan-pandangannya justru bertentangan dengan Islam, maka pendapatnya itu harus dikritik, dijelaskan kesalahan-kesalahannya, dan dijelaskan bagaimana seharusnya.

Oleh karena itu, berbeda pendapat itu boleh. Tetapi menyelisihi pendapat terkuat, itu perbuatan tercela. Berdiskusi di dunia nyata itu jauh lebih bermanfaat daripada di dunia maya.

Wallahu a’lam..

 

Dikutip dari:

Agus Trisna @ Facebook [diakses 5 Februari 2013 | pukul 17.27 (GMT+7)]

 

Bandung, 5 Februari 2013 | pukul 17.32 (GMT+7)

Baharuddin Aziz 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − eleven =