Kelemahan Gerakan Dakwah yang Terabaikan

Islamic Movement
Gambar 1. Ilustrasi suatu massa dari suatu pergerakan [1]

Di antara kelemahan berbagai gerakan dakwah yang memenuhi jagat dunia Islam adalah kurangnya pemerataan ilmu-ilmu keislaman kepada masing-masing pendukung. Hal tersebut berakibat fanatisme kelompok yang ditanamkan tidak berimbang dengan ilmu-ilmu keislaman yang diajarkan. Tentu hasilnya mudah ditebak, umumnya mereka lebih cenderung sikap fanatisme kepada kelompok ketimbang fanatisme kepada agama dan syariah.

Penjajah Inggris dulu suka mencekoki serdadu dan rakyatnya dengan jargon: right or wrong is my country. Lalu, kepada sang raja, ada sebuah adagium : The King Can Do No Wrong.

Sebenarnya akarnya bukan sama sekali tidak punya ilmu, melainkan titik masalahnya pada kurangnya kadar ilmu yang cukup. Kalau ilmu-ilmu dasar kurang dijadikan pijakan, maka di tengah jalan akan ada ketimpangan-ketimpangan yang muncul. Salah satunya gerakan dakwah menjadi gerakan taqlid buta yang tidak cerdas menganalisa sesuatu.

Gerakan dakwah tidak sama dengan satu pleton tentara. Gerakan dakwah merupakan gerakan menyadarkan umat, mencerdaskan, dan memberikan ruang untuk berijtihad. Di lain sisi, satu pleton tentara memang dirancang untuk patuh pada komandan walaupun hujan peluru, kalau disuruh maju ya maju. Seorang serdadu pertempuran sejak awal memang tidak diajarkan untuk berdiskusi ilmiyah, ngaji ilmu, apalagi buka kitab. Satu-satunya bahasa yang mereka kenal cuma taat kepada komandan. Begitulah mereka dididik dan begitulah hasilnya.

Maka dari itu, jangan berdiskusi dengan serdadu. Hal tersebut karena mereka memang tidak dilahirkan untuk berdiskusi, yang mereka tahu cuma satu kata: semua musuh harus serang, apakah kita di pihak yang salah atau benar, bukan urusan gue.

Daftar Pustaka

[1] Islamic Movement. http://img1.eramuslim.com/fckfiles/image/syariah/islamic_movement.jpg, diakses pada 13 Februari 2013, pukul 06.09 WIB.

[2] Kelemahan Gerakan Dakwah Yang Terabaikanhttps://www.facebook.com/ahnafqais.attamimi/posts/142504552580236diakses pada 13 Februari 2013, pukul 06.02 WIB.


Ditulis oleh Baharuddin Aziz di Bandung, pada 13 Februari 2013, pukul 06.31 WIB.

Diperbarui di Pangalengan, pada 21 Juli 2014, pukul 11.24 WIB.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight − eight =