#PosisiAkal: Dalam Keimanan dan Syariat (Penting)

1. berpikir dalam hal keimanan hingga kuat keyakinan itu tuntunan | sedang berpikir dalam ketentuan syariat Allah hantarkan kesesatan

2. dalam Al-Qur’an, ratusan ayat ajak kita berpikir | agar kita menyadari eksistensi Allah, agar kita meyakini adanya Allah

3. Allah meminta manusia, mengamati penciptaan langit-bumi, siklus hari, siklus angin, siklus air, dan lainnya | agar nyata kekuasaan-Nya

4. karenanya manusia yang berakal takkan mampu menafikkan adanya Allah | sebagai Rabb (Tuhan), pengatur langit-bumi dan segala diantaranya

5. menjadikan Allah sebagai Rabb (Tuhan), pemelihara segala | akan tercapai bila kita gunakan akal | karena itu satu-satunya jalan

6. pengakuan Allah sebagai Rabb (Tuhan) secara berpikir ini membawa konsekuensi | bahwa manusia harus berhubungan dengan-Nya

7. hubungan mesra antara Rabb (Tuhan) dan hamba-Nya inilah yang disebut ibadah ‘mahdhah’ | lazimnya disebut hablum minallah

8. logikanya, bila Allah itu Rabb (Tuhan) | konsekuensinya, Dia-lah yang layak disembah, layak menurunkan hukum, layak dipinta dan ditaati

9. maka dalam Islam, Allah tidak hanya cukup diyakini sebagai Rabb (Tuhan), namun juga sebagai satu-satunya ilah (sesembahan)

10. karena Arab Quraisy jahiliyah menjadikan Allah sebagai Rabb (Tuhan) | tapi mencari sesembahan lain, karenanya musyrik

11. Arab Quraisy jahiliyah dahulu menuhankan Allah | namun enggan berhukum dengan hukum Allah, lebih suka memakai cara mereka sendiri

12. padahal meyakini Allah sebagai Rabb (Tuhan) | meniscayakan manusia menggunakan aturan-Nya untuk menyembah-Nya sebagai ilah (sesembahan)

13. tatacara menghamba pada Allah inilah yang disebut syariat | mengatur cara berhubungan dengan Allah, diri sendiri dan manusia lain

14. kembali ke akal | logikanya, “bila Allah sudah kita buktikan pasti kebenarannya dengan akal, maka apapun yang datang dari-Nya benar”

15. karena iman pada Allah terbukti secara akal | maka sebetapapun tidak masuk akal syariat Allah bagi kita, itu karena kelemahan akal

16. disinilah seorang Muslim diuji | akal memang alat menuju iman | namun setelah beriman, akal tunduk pada iman

17. karena iman sudah dengan jalan akal | maka pada gilirannya | apapun yang tertunjuk oleh iman, ya dilaksanakan tanpa keraguan

18. sebelum beriman fungsi akal adalah mencari ke-Tuhan-an kepada Allah | setelahnya berganti pada memahami syariat Allah

19. jadi bila suatu syariat, nggak atau belum masuk akal | itu karena kelemahan dan keterbatasan akal kita, bukan syariatnya harus diganti

20. kaidahnya “di mana ada SYARIAT, di situ ada MANFAAT” | bukan dibalik “di mana ada MANFAAT berarti itu SYARIAT”

21. salah satu misi liberalisme adalah membalik kaidah barusan | bukan SYARIAT yang jadi MANFAAT, tapi yang dianggap MANFAAT jadi SYARIAT

22. maka kesalahan terbesar liberalis adalah | berpikir dalam masalah syariat, tapi taqlid (membebek) pada barat dalam masalah keimanan

23. seharusnya seorang Muslim | berpikir dalam masalah keimanan, tapi taqlid (mengikut) dalam masalah syariat | simpel kan 🙂

24. maka ketika syariat mengharamkan khamr, tiada lagi perlu pikirkan MANFAAT | ketika syariat haramkan riba, tiada perlu pikir MANFAAT

25. juga ketika syariat perintahkan puasa, jihad, atau khilafah | tak sepantasnya bicara MANFAAT – MUDHARAT | jalankan saja

26. banyak bertanya tentang eksistensi Allah (bukan dzat-Nya) menambah keimanan | menambah keyakinan akan adanya Dia

27. banyak bertanya tentang syariat (untuk mendebatnya) ciri miskin keimanan | tidak manfaat selain menambah keraguan akan syariat

28. jadi nggak perlu heran para liberalis selalu bertanya tentang syariat (untuk mendebat atau mengolok-olok) | itu masalah mereka

29. karena liberalis salah tempatkan akal | di wilayah yang harus mengikut dia mikir | di wilayah yang harus mikir dia ngikut

30. semoga kita selalu berpikir tentang Allah (bukan dzat-Nya) hingga hadir keimanan yang kuat | karenanya taat pada syariat-Nya

 

Dikutip dari:

chirpstory.com [diakses 8 April 2013 | pukul 06.44 (GMT+7)]

 

Bandung, 8 April 2013 | pukul 22.35 (GMT+7)

Baharuddin Aziz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × five =