Permasalahan dalam Berpikir

Permasalahan dalam Berpikir

Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menganugerahkan kita potensi akal. Akal digunakan untuk berpikir. Berpikir menjadi suatu keniscayaan bagi kita. Kita menjalani kehidupan di dunia dengan serangkaian berpikir dan berbuat. Saat kita sendiri atau bersama dengan seorang teman, kerabat, relasi kerja dan yang lainnya senantiasa kita lakukan aktivitas berpikir. Terkadang, berpikir menjadi kunci seperti apa perbuatan yang akan kita lakukan terhadap sesuatu. Untuk itulah berpikir menjadi penting. Berpikir mempengaruhi perbuatan seseorang terhadap sesuatu.

Sebelum, kemana-mana ada baiknya kita definisikan terlebih dahulu apa itu berpikir. Supaya tidak ada perbedaan persepsi tentang berpikir itu sendiri 🙂 . Sebagaimana diuraikan sebelumnya, dalam hal ini aku mengadopsi pandangan an-Nabhani untuk menjawaban apa itu berpikir. Uraiannya bisa dilihat di sini. Jadi, berpikir adalah aktivitas alat indera menyerap fakta, kemudian diasosiasikan dengan informasi sebelumnya untuk ditafsirkan hasilnya oleh akal. Hasil akhirnya adalah pemikiran. Pemikiran dapat diartikan sebagai status sebuah fakta, atau gambaran tentang fakta.

Mari kita bayangkan bagaimana proses berpikir itu berlangsung. Pernahkah kita membayangkan bahwa dahulu kita pernah berpikir tentang siapa ibu kita? Ya, ibulah guru pertama kita di dunia yang memperkenalkan bagaimana aktivitas berpikir dapat kita lakukan. Ibu memandangi kita kecil yang tidak berdaya dengan penuh kasih sayangnya. Ibu mengucapkan kata-kata sederhana yang memantik potensi keingintahuan kita.

“Ini siapa?” “ini ibu”.

Begitulah guru pertama mengajari kita berpikir. Hingga akhirnya kita selalu mengenal siapa ibu kita. Ya, ibu yang sedang memperkenalkan dirinya adalah fakta. Saat itu, beliau sedang memperkenalkan dirinya sebagai fakta. Kita dilatih untuk menggunakan indera penglihatan. Ibu menarik perhatian dengan cara memandangi mata kita dengan penuh kasih sayang. Sehingga kita juga memandanginya dan saat itulah kita sedang berlatih menggunakan indera penglihatan kita. Begitulah cara ibu melatih kita menggunakan indera penglihatan kita. Betapa hebatnya ibu, guru pertama kita di dunia. 🙂

Selain itu, ibu juga melatih kita bagaimana menggunakan indera pendengaran kita. Melalui ucapannya yang sederhana, kita diajarkan bagaimana indera pendengaran bisa mendengarkan kata-kata yang diucapkannya. Itulah saat dimana kita sedang dilatih untuk menggunakan alat-alat indera.

Tidak sampai di situ, ibu juga melatih kita memberdayakan potensi akal. Mengajukan pertanyaan “ini siapa?” sesaat setelah kita berhasil memandanginya adalah upayanya. Pertanyaan tersebut kita serap dengan indera pendengaran, fakta berupa ibu tadi juga kita serap yaitu dengan indera penglihatan, keduanya disampaikan ke otak, dan saat itulah akal kita sedang dilatih untuk berpikir. Berikutnya, kita akan mencari jawaban atas pertanyaan ibu. Jawaban didapat dengan cara berpikir tadi. Beberapa komponen berpikir sudah kita penuhi sehingga kita akan bisa berpikir. Fakta, alat indera, dan akal adalah komponen yang sudah kita penuhi. Kita membutuhkan satu komponen yang melengkapinya sehingga kita dapat berpikir. Untuk itulah ibu mengucapkan “ini ibu”. Saat itulah ibu memberikan informasi sebelumnya melalui ucapannya. Sehingga akal kita dapat mengasosiasikan fakta yang terserap tadi dengan informasi sebelumnya dan kita dapat menemukan jawaban atas pertanyaan ibu. Tanpa informasi sebelumnya berupa “ini ibu” kita tidak bisa berpikir.

Seperti itulah proses berpikir berlangsung. Setiap hari kita menjalani serangaian proses berpikir yang secara mendasar sudah diajarkan oleh ibu kita.

Dalam perkembanganya, aktivitas berpikir menjadi semakin rumit. Komponen berpikir yang secara sederhana berupa fakta, alat indera, akal, dan informasi sebelumnya mulai tergantikan. Tidak semua komponen yang tergantikan, hanya sebagian saja. Terkadang kita tidak menyadari akan hal itu. Padahal itu menyimpan suatu masalah.

Sebelum diuraikan apa permasalahannya, ada baiknnya kita telusuri mengapa hal itu dikatakan sebagai masalah. Di atas sudah disampaikan bahwa hasil akhir berpikir adalah pemikiran, yaitu status atas fakta. Sebagai manusia selain condong pada kebaikan, kita juga condong pada kebenaran. Benar berarti sesuai dengan fakta. Artinya, kita menganggap pemikiran yang kita hasilkan sesuai dengan fakta. Saat kita menganggap benar “itu ibu” berarti saat itu pula kita menganggap pemikiran “ini ibu” sesauai dengan fakta. Sehingga disimpulkan bahwa permasalahan seputar pemikiran berupa status benar tidaknya pemikiran tersebut.

Dewasa ini, dengan perkembangan teknologinya, aktivitas berpikir kita mampu menembus batas ruang dan waktu. Kita bisa memikirkan seperti apa itu gunung Fuji, sebagaimana kita memikirkan siapa yang layak kita sebut sebagai ibu saat kita kecil dahulu. Padahal keduanya berbeda, kita menemukan fakta berupa ibu secara langsung. Tidak halnya dengan gunung Fuji yang tidak pernah kita indera secara langsung. Namun, kita dapat memikirkan keduanya (hal ini diakui oleh masyarakat umum bahwa kita juga berpikir walaupun tidak mengindera fakta secara langsung). Mengapa? itu tidak lain karena masyarakat umum sudah mengakui bahwa fakta dapat diwakilkan dengan simbol, gambar, video, tanda dan sebagainya. Yaitu, gunung Fuji tadi kita wakilkan dengan video atau foto gunung Fuji. Inilah salah satu hasil peradaban manusia sekarang, mengakui pengganti fakta sebagai fakta yang sesungguhnya.

Permasalahan tersebut berpangkal dari keberpihakan kita akan kebenaran, yaitu, kesesuaian pemikiran akhir dengan fakta yang sesungguhnya. Masalah timbul karena kita menyangsikan kebenaran suatu pemikiran. Untuk itu kita akan melakukan pengujian apakah pemikiran tersebut benar.

Semakin bertingkat penggantian fakta, semakin bertingkat pula pengujian kebenaran pemikiran terhadapnya. Misalnya untuk kasus memikirkan gunung Fuji tadi. Sebelum menguji apakah benar itu gunung Fuji, kita akan menguji apakah foto tersebut benar-benar menggantikan gunung Fuji yang merupakan fakta sesungguhnya. Demikianlah seputar permasalahan dalam berpikir. Dalam kehidupan nyata, sesungguhnya kita akan menemukan permasalahan yang lebih rumit daripada memikirkan foto gunung Fuji. Hingga terkadang kita terpeleset dalam ketidakbenaran berpikir. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’aala senantiasa memberikan kekuatan akal dan kejernihan pikir, sehingga kita akan terhindar dari ketidakbenaran dalam aktivitas berpikir.

 

Dikutip dari:

tommyajinugroho.blogspot.com [diakses 9 Januari 2013 | pukul 16.59 (GMT+7)], dengan pengubahan seperlunya

 

Sumber Gambar:

www.elisabethhubert.com [diakses 12 Januari 2013 | pukul 08.14 (GMT+7)]

 

Bandung, 9 Januari 2013 | pukul 17.01 (GMT+7)

Baharuddin Aziz

[update 20130112.08.29]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 + 18 =