Tidak sedang Berpikir

Patrick dan Spongebob

Siang ini, hpku berdering, pertanda ada sms yang masuk

“Aslm,. kang, punteun mau nanya, kalo berimajinasi teh bisa disebut berpikir gak ya?”.

aku balas sekenanya

*Wlkmslm,. imajinasi yang seperti apa ya, %&$#*^ [sensor nama :):) ]?*

“Masalahnya kayak orang yang lagi gambar spongebob. Si pengarangnya menggabungkan informasi sebelumnya yang dia terima. Dia terima informasi sebelumnya bahwa bentuk spons seperti itu dan manusia seperti itu. Langsung dia gabungkan dua konsep itu lahirlah Spongebob. Nah berarti berimajinasi hanya membutuhkan otak dan informasi sebelumnya ya kang? Berarti itu bukan berpikir ya kang?”.

Aku pikir ini pertanyaan kritis. Bagaimana tidak, Spongebob yang merupakan sebuah karya imajinasi manusia yang mempunyai penggemar yang tidak sedikit di seluruh dunia dikatakan bukan hasil berpikir seseorang. Jika Spongebob diklaim bukan hasil berpikir seseorang tanpa disertai penyusunan dasar argumen, aku kurang respek terhadap klaimnya. Tetapi, klaim tersebut dilandasi dasar argumen bahwa pembuat Spongebobe hanya merangkai dua informasi sebelumnya yaitu tentang spons dan manusia. Jika digabungkan, lahirlah sebuah karya yang cukup digemari oleh berbagai kalangan di seluruh penjuru dunia.

Aku pun berusaha untuk membalas sms tersebut. Ada harapan, semoga saja jawaban yang kuberikan dapat bermanfaat baginya. Aku memulainya dari yang normatif bahwa secara sederhana berpikir mempunyai komponen berupa fakta, alat indera, akal, dan informasi sebelumnya. Maksudnya, proses berpikir akan berlangsung dengan adanya keempat komponen tersebut. Jika satu saja komponen hilang, proses berpikir tidak dapat dijalankan.

Dalam perkembangannya, otak atau akal manusia mampu menampung gambaran atau penyerapan fakta. Oleh kita, hal tersebut biasa disebut sebagai ingatan. Ingatan bukanlah fakta. Sebab, fakta dapat diukur dengan besaran-besaran Fisika. Akan tetapi tidak dengan ingatan. Ingatan tidak dapat diukur dengan besaran-besaran Fisika. Akan tetapi bukan berarti itu tidak bisa dijadikan komponen berpikir. Jika dibandingkan dengan uraian smsnya, informasi sebelumnya bentuk spons dan manusia mengandung informasi sebelumnya dan gambaran fakta spons dan manusia. Sehingga dengan demikian, seseorang pembuat Spongebob dikatakan telah berpikir? Belum tentu, mari kita buktikan.

Sebenarnya, apa yang kita butuhkan dalam berpikir? Jika dilihat dari urutan prosesnya, yang dikaitkan dengan informasi sebelumnya oleh akal adalah penyerapan fakta bukan fakta itu sendiri. Sebab, fakta tidak akan berarti apa-apa tanpa alat indera kita menyerapnya menjadi penyerapan fakta. Jadi sejatinya yang digunakan dalam proses berpikir bukanlah fakta melainkan penyerapan fakta. Pembuat Spongebob memenuhi komponen berupa inforamsi sebelumnya dan penyerapan fakta atas spons dan manusia. Dengan akalnya, keduanya dihubungkan dan memungkinkan terjadinya proses berpikir. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pembuat Spongebob sedang berpikir. Artinya ia tidak membutuhkan fakta berupa spons dan manusia. Jadi, fakta tidak dibutuhkan dalam berpikir? Tidak, selagi ada penyerapan fakta. Fakta tidak diperlukan dalam proses berpikir. Akan tetapi fakta dibutuhkan oleh alat indera agar bisa menjalankan fungsinya sehingga dihasilkan penyerapan fakta. Tanpa fakta tidak ada hasil penyerapan atasnya.

Selain itu, dengan adanya penyerapan fakta, pembuat Spongebob tidak lagi membutuhkan alat inderanya untuk berpikir. Sebab, alat indera dibutuhkan untuk menyerap fakta. Keadaannya, penyerapan fakta sudah ada. Sehingga, alat indera tidak dibutuhkan lagi, namun ia tetap bisa berpikir. Dari sini dapat disimpulkan bahwa komponen berpikir dapat diringkas manjadi tiga komponen saja, penyerapan fakta, informasi sebelumnya, dan akal. Dengan catatan, penyerapan fakta merupakan hasil berfungsinya alat indera terhadap fakta. Jika tidak ada fakta, penyerapan fakta yang dihasilkan adalah dengan cara mengada-ada. Kita biasa menyebutnya dengan kebohongan dan aktivitas terhadapnya biasa dikatakan berkhayal. Jadi, berkhayal tidak bisa dikatakan sebagai aktivitas berpikir. Berkhayal berbeda dengan berimajinasi. Karena dalam berkhayal, penyerapan fakta dan fakta tidak akan terhubung.

Hubungan penyerapan fakta dan fakta menentukan apakah proses yang berlangsung terhadapnya bisa dikatakan berpikir atau tidak. Orang yang berkhayal tidak pernah menghubungkan penyerapan fakta dengan fakta. Untuk itulah berkhayal bukan berpikir. Suatu fakta, bagaimanapun itu, akan terikat pada sekat-sekat ruang dan waktu. Hasil proses berpikir akan mengikuti sekat-sekat ruang dan waktu. Tidak bisa tidak, karena perubahan fakta terhadap ruang dan waktu sangat memungkinkan untuk terjadi. Kita akan mengabarkan pada orang tua bahwa bus yang kita tumpangi sedang berada di KM 100 tol Cipularang pada satu waktu. Akan tetapi kita tidak bisa mengabarkan informasi yang sama pada selang waktu 30 menit setelahnya dengan asumsi bus bergerak dengan kelajuan konstan meninggalkan kota Bandung.

 

Dikutip dari:

tommyajinugroho.blogspot.com [diakses 9 Januari 2013 | pukul 17.07 (GMT+7)], dengan pengubahan seperlunya

 

Bandung, 9 Januari 2013 | pukul 17.09 (GMT+7)

Baharuddin Aziz

[update 20130112.0814]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 × five =