#Liberalis: “Kulit” dan “Isi” ala Liberalis

1. pemikiran liberal ciri-cirinya | mendewakan apa yang mereka anggap sebagai ‘isi’ dan menyepelekan apa yang mereka anggap ‘kulit’

2. liberalis menjauhkan Muslim dengan menyepelekan ‘kulit’ dan menekankan ‘isi’ | sekilas terlihat masuk akal, sejatinya sesat

3. “nggak penting kerudung-jilbabnya (kulitnya), yang penting baik (isinya)” | ini contoh pemikiran liberal

4. “nggak penting syariatnya (kulitnya), yang penting hasilnya (isinya) | ini pun contoh pemikiran liberal

5. “nggak penting shalat (kulitnya), yang penting ingat Allah (isinya)” | sama, inipun pemikiran liberal

6. “nggak masalah apapun agamanya (kulitnya), semua agama ajarin baik kok (isinya)” | contoh lagi pemikiran liberal

7. “syariat nggak perlu harus sesuai Rasulullah (kulitnya), zaman sudah berubah harus sesuaikan fakta (isinya)” | ini pun sama liberalnya

8. pemikiran liberal tanpa sadar menyusup dalam darah kita | mengalir deras seolah-olah itu adalah ide-ide Islam

9. karenanya perlu kita sampaikan konsep “amal yang diterima” dalam Islam | agar selamat dari pemikiran liberal

10. dalam Islam amal diterima bila mencakup 2 hal | (1) niat yang ikhlas karena Allah (bukan yang lain) dan (2) cara yang sesuai syar’i

11. dalam kajian lebih lanjut | disebut dengan fikrah (konsep/isi), thariqah (metode/kulit), dan uslub (cara)

12. maka dalam shalat | maka niat lillahi ta’ala adalah fikrah (konsep/isinya), sedang gerakan shalat adalah thariqah (metode/kulitnya)

13. dalam Islam niat (fikrah/konsep/isinya) harus karena Allah | dan cara (thariqah/metode/kulitnya) juga harus sesuai Allah

14. karenanya di dalam Al-Qur’an | setiap kata-kata “aamanu” (beriman) seringkali digandeng dengan “wa amilush shalihah” (beramal shalih)

15. niat yang ikhlas tanpa cara yang benar tiada pahala | sama sebagaimana cara yang benar tapi dilakukan niat riya

16. sedangkan uslub (cara) | maka ini bisa berbeda, bisa berubah, tergantung tempat, zaman, teknologi, dan sebagainya

17. jadi bukan berarti Islam menolak modernisasi | namun Islam menolak liberalisasi

18. dalam dakwah contohnya | niat (fikrah) harus ikhlas, metode (thariqah) sesuai nabi, mengenai cara (uslub) bisa via ceramah, twitter, dll

19. jadi Islam mewajibkan kita terikat pada fikrah dan thariqah | namun boleh berkreasi dalam uslub

20. misal hijab | ya mesti sesuai niat (ikhlas) dan bentuknya sesuai syariat (jilbab-khimar) | adapun uslub, misal jenis kain, boleh kreasi

21. jadi Islam bukan hanya asal intinya, kulitnya pun penting | bukan hanya asal hasilnya, prosesnya pun dihisab

22. bahkan pada banyak hal | Allah dan Rasul meminta kita fokus pada proses | bukan pada hasilnya

23. sama dalam perkara penegakan syariat Islam | hasil bukan satu-satunya hal penting | namun prosesnya pun tak kalah penting

24. kita ditolong Allah bukan karena seberapa banyak ibadah yang kita lakukan | namun dari seberapa kecil dosa yang kita hindarkan

25. jangan tertipu liberalis yang mencoba menjauhkan Muslim dari Allah | dengan logika manis namun sesat, logis namun maksiat

26. cukup bagi kita konsep Islam dan metode Islam | kita Islam karenanya “kulit” kita Islam dan “isi” kita Islam

 

Dikutip dari:

chirpstory.com [diakses 9 April 2013 | pukul 00.18 (GMT+7)]

 

Bandung, 9 April 2013 | pukul 22.35 (GMT+7)

Baharuddin Aziz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five + 12 =